Jumat, 16 Maret 2012

Lukisan Kain Perca tentang Kebijakan Penyesuaian Harga BBM Tahun 2012



Across the country, people are willing to tighten their belts and sacrifice. The president should ask the oil industry to do the same... (John Salazar)

Entah mengapa malam itu setelah dua kilometer mendorong kuda besi tua yang kehabisan bensin dalam perjalanan sepulang kuliah malam dari kampus Salemba mengilhami saya untuk mengumpulkan potongan-potongan informasi seputar rencana Pemerintah melakukan pengendalian subsidi melalui kebijakan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) dan dengan segala keterbatasan otak dan akal yang terkadang tidak sinkron mencoba menuliskannya secara singkat.
.Tidak ada sebuah kebijakan Pemerintah yang memiliki kepekaan sosial politik sangat tinggi seperti kenaikan harga BBM. Bedanya kalau zaman Orde Baru dulu Pemerintah tidak ada kesan takut dan ragu-ragu untuk melakukannya. Sekarang bisa berbulan-bulan untuk mengkajinya sampai-sampai Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II diledek seperti ‘majelis taklim’ karena terlalu banyak (lama?) ‘mengkaji’ dan ‘mengkaji’, tapi seperti itulah kebijakan publik diambil, dengan mengutamakan prinsip kehati-hatian. Keputusan politik seperti itu memang harus didukung DPR-RI karena berada dalam format APBN. Namun ketegasan dan kecepatan mengambil keputusan sangat diperlukan karena masyarakat sedang dihadapkan pada fluktuasi perekonomian global dan khususnya harga minyak dunia yang begitu tajam. Pertaruhannya besar karena menyangkut APBN dan masyarakat tak mau kebangkrutan anggaran Pemerintah yang sekarang dialami negara-negara Eropa terjadi di negeri tercinta ini. Kenaikan harga BBM adalah sebuah keharusan kalau tidak negara makin terbebani dengan pembengkakan subsidi. Maklumlah ketegangan antara Iran dan AS serta negara negara Eropa memantik kenaikan harga minyak di pasar internasional. Harga minyak mentah Brent di London telah mencapai hingga US$ 122,9 per barel dan Pemerintah memastikan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada 1 April 2012.
Lalu hal lain apa yang mungkin menjadi dasar bagi Pemerintah dalam mengambil kebijakan pengendalian subsidi tersebut?. Seperti telah diketahui bahwa prospek pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan masih melemah, bahkan IMF dalam WEO Januari 2012 telah merevisi ke bawah pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2012 menjadi 3,3% dari sebelumnya 4,3% pada proyeksi September 2011. Sementara itu, World Bank juga merevisi ke bawah pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2012 menjadi 2,5% dari sebelumnya 3,6% pada proyeksi Juni 2011. Ekonomi negara-negara emerging  dan berkembang yang diharapkan menjadi mesin pertumbuhan dunia juga diperkirakan tumbuh lebih rendah dari perkiraan sebelumnya. World Bank dan IMF dalam WEO Januari 2012 telah merevisi ke bawah pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang tahun 2012 menjadi 5,4% dari sebelumnya 6,2% pada proyeksi Juni dan September 2011. Dengan melemahnya pertumbuhan ekonomi dunia, pencapaian sasaran pertumbuhan ekonomi 2012 memerlukan upaya yang keras dan konkret untuk memperkuat permintaan dalam negeri seperti daya beli masyarakat dan investasi.
Pada November 2011, International Energy Agency (IEA), sebuah lembaga yang mewakili konsumen energi terbesar dunia mengingatkan dalam ramalan tahunannya, bahwa harga minyak dunia dapat melesat menjadi US$150 per barrel jika dari sekarang hingga 2015 investasi minyak dan gas di Timur Tengah dan Afrika Utara tidak sampai 2/3 dari US$100 miliar per tahun seperti yang selayaknya. Seperti dilaporkan oleh The Wall Street Jorunal, IEA mengisyaratkan belum ada kepastian apakah investasi minyak dan gas sebesar yang diharapkan dapat terus berlangsung di kawasan, mengingat makin seringnya terjadi konflik dan ketidakstabilan politik di sana. Juga adanya keharusan meningkatkan belanja sosial dari Pemerintah-pemerintah bersangkutan serta meruaknya nasionalisme skeptis, dapat mengancam kelangsungan investasi minyak dan gas. Negara-negara di Timur Tengah dan Afrika Utara, menurut lembaga itu, harus menambah alokasi pendapatan mereka untuk belanja sosial sehingga menyebabkan berkurangnya investasi di minyak dan gas. Walau berbagai jenis produk baru minyak dari Amerika Utara sedang naik daun menggantikan minyak mentah Timur Tengah, IEA memperingatkan Barat masih akan sangat mengandalkan kebutuhan minyaknya pada negara-neagra Arab. Dan jika para penguasa di Baghdad dan Riyadh memutuskan pemotongan pengeluaran mereka pada eksplorasi minyak, sangat mungkin terjadi harga melesat ke US$150 per barel sesudah tahun 2015. Minyak dari Timur Tengah dan Afrika Utara, menurut IEA, masih yang termurah untuk didapatkan dan akan mencukupi lebih dari 90% jumlah tambahan yang dibutuhkan dunia hingga tahun 2035. Harga tertinggi minyak yang pernah terjadi adalah US$147 pada tahun 2008, ketika terjadi krisis global. Maka dapat dibayangkan bagaimana parahnya bila harga minyak mencapai US$150.
Pada awal tahun 2012, harga minyak mentah dunia terus mengalami trend naik yang dipicu oleh kondisi geopolitik, terutama di Timur Tengah. Selama tahun 2011, realisasi harga ICP rata-rata mencapai US$111,0 per barel, jauh di atas harga minyak yang tinggi di tahun 2008 rata-rata US$100,0 per barel. Selama bulan Januari-Februari 2012, realisasi rata-rata harga ICP telah mencapai US$119,0 per barel, sedangkan selama periode Desember 2011-Februari 2012 (sebagai basis perhitungan penerimaan Migas dan subsidi BBM) rata-rata harga ICP mencapai US$116 per barel. Dengan perkembangan tersebut, harga rata-rata ICP selama tahun 2012, dapat berkisar rata-rata sebesar US$100 -US$120 per barel atau pada titik berkisar US$105,0 – US$110,0 per barel.
Kenaikan ICP menyebabkan beban subsidi energi (BBM dan Listrik) akan meningkat tajam. Dalam APBN 2012, dengan asumsi rata-rata ICP US$90 dan kurs Rp8.800/US$1, beban subsidi BBM dianggarkan sebesar Rp123 triliun. Dengan rata-rata ICP tahun 2012 sebesar US$105per barel dan kurs Rp9.000/US$1, maka tanpa langkah-langkah pengendalian dan pembatasan (volume BBM akan mencapai 43 juta kiloliter), beban subsidi energi akan membengkak menjadi Rp191 triliun, atau naik Rp67,5 triliun dari target APBN 2012. Sementara itu, beban subsidi listrik akan membengkak sebesar Rp53,4 triliun, dari Rp45 triliun pada APBN 2012 menjadi Rp98,3 triliun. Dengan demikian beban subsidi energi akan meningkat  Rp 120,9 triliun. Tanpa langkah-langkah kebijakan pengendalian subsidi, defisit APBN 2012 akan membengkak sebesar Rp176 triliun, dari Rp124 triliun atau 1,53% terhadap PDB menjadi sekitar Rp300 triliun atau 3,6% terhadap PDB. Jika ditambah dengan total defisit APBD Provinsi dan Kabupaten/Kota sebesar 0,5% dari PDB, maka total defisit APBN dan APBD menjadi 4,1% dari PDB. Hal ini berpotensi melanggar Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang membatasi defisit APBN dan APBD maksimal 3,0% dari PDB meskipun demikian dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2011 tentang APBN 2012 tidak membolehkan penyesuaian Harga BBM selama tahun 2012, oleh karena itu Pemerintah harus bergandengan tangan dengan DPR-RI untuk mencari solusi terbaik bagi permasalahan ini.
Peningkatan beban subsidi energi, baik subsidi BBM maupun subsidi listrik yang sangat besar, dengan implikasi pada pembengkakan defisit fiskal yang sangat tinggi hingga di atas 3% dari PDB tersebut akan meningkatkan risiko bagi perekonomian nasional. Secara garis besar risiko yang mungkin terjadi adalah:
·      Jika defisit dan beban subsidi tidak dapat dikendalikan dan dikelola secara baik akan meningkatkan risiko fiskal dan mengancam kesinambungan fiskal yang menjadi jangkar bagi kestabilan ekonomi nasional,.
·      Menurunkan kepercayaan para pelaku pasar terhadap pengelolaan (manajemen) ekonomi makro, akibat pengelolaan kebijakan fiskal yang tidak prudent. Hal ini terutama karena kesinambungan fiskal dan kesehatan APBN merupakan baromater utama yang dilihat para investor dan pelaku pasar dalam melakukan transaksi bisnis dan ekonomi serta berinvestasi di Indonesia.
·      Dengan meningkatnya risiko, maka minat berinvestasi di Indonesia akan melemah, dan sebagai implikasinya investasi termasuk investasi di bidang energi, seperti independent power producers menjadi tidak akan masuk.
·      Meningkatnya risiko investasi dan menurunnya confidence terhadap prospek perekonomian nasional akan menyebabkan terjadinya pelarian modal secara tiba-tiba (suddent reversal) obligasi negara atau meningkatnya aksi flight to quality.
Bila keempat hal di atas terjadi, maka multiplier efeknya bagi perekonomian Indonesia sudah dapat dibayangkan. 

Pengendalian subsidi merupakan suatu keharusan, ini bisa dilihat dari beberapa fenomena berikut:
·      Harga minyak dunia cenderung terus meningkat yang akan mengakibatkan beban subsidi akan cenderung membengkak, lebih-lebih perhitungan beban subsidi didasarkan pada harga
·      Sebagai dampak dari kenaikan harga minyak dunia, maka kenaikan harga ICP menyebabkan disparitas (perbedaan) harga keekonomian semakin jauh dari harga eceran BBM bersubsidi sehingga mendorong timbulnya pemborosan energi, penyelundupan, penyelewengan penggunaan BBM bersubsidi, dan praktek-praktek illegal lainnya.
·      Harga eceran BBM bersubsidi, baik premium maupun solar di Indonesia termurah di antara negara-negara Asean, bahkan masih jauh lebih murah jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga yang pendapatan per kapitanya masih di bawah pendapatan per kapita Indonesia. Banyak negara telah menyesuaikan harga BBM sejalan dengan kenaikan harga minyak dunia, sementara harga BBM di Indonesia jauh lebih rendah. Harga eceran premiun di Singapura pada bulan Januari 2012 mencapai Rp14.562 per liter naik dari Rp14.206 per liter; di Philipina naik dari Rp11.277 per liter (Juli 2011) menjadi Rp11.715 per liter (Januari 2012); Thailand naik dari Rp12.379 per liter (Juli 2011) menjadi Rp13.380 per liter (Januari 2012); Vietnam sudah mencapai Rp8.792 per liter (Juli 2011); dan Korea naik dari Rp15.477 per liter (Juli 2011) menjadi Rp11.715 per liter (Januari 2012). Sementara itu, Indonesia masih bertahan pada harga Rp4.500 per liter. Harga BBM per liter di Sri Lanka naik dari $1.01 (2010) menjadi $1.14 (2011) dan $1.25 (2012);  di India Harga BBM per liter naik dari $1.22 (2010) menjadi $1.48 (2011) dan $1.48 (2012); di Vietnam Harga BBM per liter naik dari $0.69 (2010) menjadi $1.03 (2011) dan $1.04 (2012); sedangkan di Thailand Harga BBM per liter naik dari $1.17 (2010) menjadi $1.76 (2011) dan $1.78 (2012).
·      Penikmat subsidi BBM banyak salah sasaran. Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional, subsidi BBM banyak dinikmati oleh kelompok menengah ke atas (masyarakat berpendapatan tinggi). Konsumsi BBM motor rata rata 18.7 liter/bulan, sementara pemilik mobil 113.1 liter/bulan dari sini dapat dilihat bahwa subsidi BBM lebih banyak dinikmati pengendara mobil  yang hanya berjumlah 4,3% dari total Rumah Tangga Konsumsi. 

Berdasarkan perkembangan asumsi makro tahun 2012 serta struktur biaya BBM, maka dapat dihitung bahwa kenaikan harga ICP US$1 mengakibatkan subsidi bertambah sekitar Rp2,9 trilun, tambahan volume BBM jenis Premium 1 juta KL akan mengakibatkan penambahan subsidi sekitar Rp3,3 triliun dan tambahan volume BBM jenis Minyak Solar 1 juta KL akan mengakibatkan tambah subsidi sekitar Rp3,4 triliun.
Pemerintah mengatakan bahwa kebijakan pengendalian subsidi dimaksudkan untuk menata ulang kebijakan subsidi agar makin adil, tepat sasaran, dan akuntabel, salah satunya menyusun sistem seleksi yang ketat untuk menentukan sasaran penerima subsidi yang tepat dengan menggunakan basis data yang lebih valid.
Di lain pihak, Pemerintah telah mempersiapkan program kompensasi pengurangan subsidi energi sebesar Rp30,6 triliun yang dialokasikan untuk Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) yang diberikan kepada 18,5 juta RTS dan subsidi angkutan umum seperti penambahan PSO untuk angkutan umum (kelas Ekonomi Penumpang dan Barang) dan kompensasi terhadap kenaikan biaya tidak langsung angkutan umum perkotaan. Bahkan dalam RAPBN-P 2012 juga dilakukan penambahan dan perluasan subsidi pangan, dan pemberian subsidi siswa miskin.

Sebagai mahasiswa tidak ada larangan ikut meramaikan aksi demonstrasi terkait kebijakan Pemerintah melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak karena hal ini memperlihatkan seberapa besar mental dan kreatifitas bangsa Indonesia dalam menanggapi segala aspirasi yang berkembang di masyarakat, namun yang perlu diingat adalah aksi demonstrasi tersebut harus dibekali dengan pengetahuan yang cukup berdasarkan data dan fakta yang terjadi serta lebih mengutamakan kepentingan nasional. Tujuan memperoleh pengetahuan adalah memelihara karakter seseorang tetapi orang yang hanya mengejar pengetahuan sebagai tujuan akhir akan kehilangan makna pendidikan. Salah satu aksi yang dapat dilakukan adalah menyadarkan masyarakat untuk menghemat pemakaian energi yang tidak dapat diperbaharui (Unrenewable) dengan mendukung ketahanan energi nasional jangka panjang sehingga nantinya efek mikro yang dirasakan seperti mengurangi dampak perubahan lingkungan, dan mengurangi beban kemacetan lalulintas dapat terwujud, disamping efek makro yang mungkin tidak dirasakan secara langsung oleh masyarakat namun memegang peranan vital. Kebijakan terdahulu seperti melaksanakan program konversi BBM ke bahan bakar gas, konversi minyak tanah ke LPG 3 kg untuk daerah yang belum terkonversi, dan pemanfaatan energi alternatif seperti bahan bakar nabati sebaiknya terus dilakukan. Daripada dana APBN ‘dibakar’ salah sasaran maka akan lebih baik jika dialihkan ke belanja yang lebih produktif.

 
Setiap masalah yang terjadi merupakan satu batu pijakan untuk melangkah. Kita dapat keluar dari sumur yang terdalam dengan terus berjuang seperti sebuah perumpamaan tentang seekor keledai tua. Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis memilukan sementara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya, karena hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun karena berbahaya, maka tidak ada gunanya untuk menolong si keledai tua. Bersama para tetangganya, mereka mulai menyekop tanah ke dalam sumur. Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia meronta dan menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian semua orang takjub, karena si keledai tua menjadi diam. Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh tanah, si keledai tua mengguncang-guncangkan badannya untuk membuang tanah yang menimpa punggungnya lalu menaiki tanah itu.


Sumber:
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2011 tentang APBN 2012,
Artikel: World Bank, IMF, International Energy Agency
Website: Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Keuangan, Kementerian ESDM, Badan Pusat Statistik, Bloomberg, Kompas, Media Indonesia, Republika, Investor Daily.

-pramuditya.kurniawan-

Rabu, 15 Februari 2012

Relativisme Ndak Tentu

Bukan hanya karena kebanyakan watak orang Madura termasuk saklek, efektif, dan memiliki kecenderungan anti eufimisme. Mereka juga memiliki hobi mengucapkan “tidak tentu” – yang dilogatkan menjadi ndak tentu, adat ini telah membuat saya jatuh hati.
Ndak tentu merupakan perwujudan dari kesadaran terhadap relativitas. Pada prakteknya, ungkapan tersebut boleh dibilang sebagai bentuk kehati-hatian yang tinggi terhadap berbagai ketidakpastian hidup. Dengan bersikap ndak tentu, mereka akan lebih terjaga di antara dua kutub nilai atau keadaan yang bisa menjebak. Kesadaran ndak tentu membuat mereka tidak terlalu mabuk gembira jika memperoleh rezeki ataupun stress berkepanjangan jika tertimpa musibah.
Dulu saya kurang percaya dengan hobi ndak tentu, sebab yang sering saya dengar hanya jokes kurang bermutu. Misalnya, pernah menjelang akhir tahun 2011 silam ada seorang petugas survey mendatangi pasar ikan hias di jalan Sumenep Jakarta Pusat, dia bermaksud mengetahui tingkat nasionalisme wong cilik di daerah tersebut.
Petugas tersebut bertanya, “Cak, siapa Presiden Indonesia sekarang?”
Sambil menata tanaman air, si pedagang menjawab sekenanya, “Ooo, ndak tentu Pak..”
Serasa ditonjok jidatnya, si petugas terus mengejar bertanya, “ndak tentu bagaimana?” Pertanyaan tadi adalah pertanyaan paling mudah di seluruh nusantara, dan jawaban ndak tentu sungguh harus diwaspadai.
“yaa kadang-kadang Mario Teguh, kadang-kadang Sule OVJ, pokoknya ndak tentu pak, aku cuma liat gambar yang sering nongol di tivi” jawab si pedagang ikan hias.
Pecah isi kepala, si petugas survey mulai naik pitam, “Trus kalau Pak Karno itu siapa?”
Dengan tenang si pedagang ikan hias menjawab, “Ooo, laeenn, Pak Karno bukan presiden tapi rajaaa!”
Jokes tadi tidak saya setujui karena hendaknya kita jangan saling meremehkan di antara sesama anak bangsa. Tapi beberapa waktu lalu dengan menunggangi kuda besi dan berbekal rasa kenyang hasil traktiran bakso calon pemgusaha konveksi, saya berkunjung ke kampus Bintaro dan secara tidak sengaja bertemu dengan kawan lama yang blasteran Madura-Surabaya dan legenda ndak tentu itu nongol di depan hidung saya.
Di tengah obrolan saya dengan sang kawan tadi tercetuslah topik tentang sistem perekonomian syariah, mungkin karena sedang musim pemikiran reaktualisasi ajaran Islam. Si kawan tertawa dan menepis, “Ahh, kodok nunggang kebo! Buat apa ngurusi kaya begitu, hukum makan minum aja kita belum fasih”
Saya membantah, “Lho kan jelas, makan minum itu hukumnya mubah!”
Sang kawan tertawa lagi, “Ooo, ndak tentu Dit”
Selain kaget oleh ide jawaban tadi, saya juga terhenyak oleh kata ndak tentu. “Ndak tentu gimana? Hukum ko ndak tentu?!” tukas saya.
“Ya ndak tentu, kalo kamu ndak makan berarti telah menghina ragamu yang merupakan titipan Tuhan, kecuali kamu bisa hidup tanpa makan. Lha kalo makan minum berlebihan baik jumlah maupun ‘estetikanya’ itu lebih beda hukumnya. Apalagi kalau makan punya orang, makan jembatan, kayu hutan, perkebunan, minum bendungan,,,” ajawab kawan saya.
“Wasssyyuuu,, gawean pemeriksa ga usah dibawa kemari” potongku kesal.
Mungkin benar jika hukum seharusnya bersifat parsial-statis, tapi mulai hari itu saya setuju bahwa hukum itu bersifat kontekstual-dinamis. Kalau bahasa Maduranya ya ndak tentu.


Jumat, 03 Februari 2012

KamuLuYou

Merupakan hal lumrah untuk maksud yang sama kita kadang menggunakan kata atau sebutan yang berbeda.  Contohnya, untuk kata ganti orang kedua bisa menggunakan kata Anda, Saudara, Kamu, Lu, atau dengan menyebutkan nama di belakang sebutan Bapak, Ibu, Saudara, (Bapak Suratman, Ibu Suprapti, Saudara Sugiman) atau sebutan lainnya.  Pilihan kata atau sebutan tersebut seringkali tergantung pada konteks komunitas lingkungan dimana komunikasi tersebut dilakukan.

Dalam konteks komunitas informal seperti pergaulan di kampus atau persahabatan orang dewasa di rumah, sekolah, bengkel, mall atau di tempat-tempat umum lainnya biasanya digunakan pilihan kata-kata pertemanan Kamu-Aku atau Lu-Gue. Dalam konteks komunitas yang bersifat formal seperti dalam acara rapat/pertemuan di kantor atau kegiatan-kegiatan sosial di masyarakat  biasanya menggunakan kata Anda, Saudara, atau nama di belakang sebutan Pak/Bapak, Bu/Ibu, atau Saudara.

Terasa aneh ketika kata-kata yang biasa digunakan dalam konteks informal, misalnya kata “kamu”, kemudian digunakan dalam konteks  formal. Sekarang coba bayangkan seandainya kita mempunyai seorang atasan baru yang masih berusia muda dan mempunyai kebiasaan menyebut “kamu” kepada setiap stafnya, termasuk kepada mereka yang lebih tua, dalam forum pertemuan resmi di kantor. Pertanyaan yang mengusik saya, mengapa orang sering merasa bahwa harga diri dan martabatnya seakan direndahkan oleh ucapan “kamu” oleh sang atasan? Selain itu, mengapa sang atasan tetap mempertahankan kebiasaan tersebut meskipun dia tahu semua atau sebagian besar stafnya tidak menyukainya?


Sesuatu yang tidak biasa cenderung akan menarik perhatian.

Energi emosi akan berkumpul di satu titik. Ketika sesuatu itu merupakan hal yang menyenangkan maka manusia akan (melepas energi emosi dan) merasakan kesenangan yang luar biasa. Sebaliknya, ketika sesuatu itu merupakan hal yang menyakiti perasaan maka manusia pun cenderung akan merasakan kesedihan (kebencian?) yang luar biasa pula.  Hal lain yang perlu diingat adalah bahwa ucapan “kamu” sebenarnya bisa mempunyai makna yang berbeda, tergantung pada intonasi suara dan bahasa tubuh yang diperlihatkan oleh orang yang mengucapkannya. Kita bisa dengan mudah membedakan makna ucapan “kamu” dalam kalimat “Nduk, kamu harus tetap tegar menghadapi cobaan hidup ini” yang diucapkan oleh seorang Bapak kepada anak perempuannya dan kalimat “Kamu harus ingat bahwa untuk masalah yang satu ini saya tidak pernah main-main” yang diucapkan oleh seorang atasan kepada stafnya.

Ada satu lagi yang perlu diperhatikan di sini. Hal yang membuat seseorang merasa harga dirinya direndahkan bukanlah semata-mata karena ucapan sang atasan, tapi juga karena tingkat sensitivitasnya untuk menerima ucapan tersebut.  Karena tingkat akseptabilitas terhadap kata “kamu” yang diucapkan oleh atasan bisa berbeda di antara para stafnya, maka sesungguhnya respon terhadap ucapan tersebut pun bisa berbeda. Bukan tidak mungkin sebagian di antara staf tadi menganggap sebutan “kamu” yang diucapkan oleh atasan tersebut sebagai “sesuatu yang tidak penting”.  Ucapan tersebut, menurut mereka, sama sekali tidak berpengaruh pada martabat dan harga diri mereka.

Pertanyaan berikutnya, mengapa atasan tadi tetap mempertahankan kebiasaan tersebut meskipun dia tahu semua atau sebagian besar stafnya tidak menyukainya? *(diulangi lagi). Kemungkinan pertama adalah dia menganggap kebiasaan tersebut merupakan gaya ekspresi yang dipilih sebagai identitasnya, tanpa diboncengi oleh niat atau kepentingan apapun. Setiap orang, menurutnya, berhak untuk memilih menggunakan kata ganti kedua manapun, termasuk “kamu” dan juga “you”, dalam berkomunikasi dengan orang lain.  Kemungkinan berikutnya, dengan menggunakan sebutan “kamu” kepada stafnya dia berharap si staf akan memperhatikan dan merespon sesuai dengan keinginannya.  Kata “kamu” di sini barangkali merupakan simbol ketegasan dan sikap straight forward, tanpa basa-basi, yang ingin diperlihatkannya.


Seorang atasan atau pemimpin yang biasa menggunakan sebutan “kamu” kepada stafnya dalam setiap acara pertemuan mungkin bermaksud baik, supaya pertemuan tersebut dapat berlangsung dalam suasana kekeluargaan atau kebersamaan tanpa ikatan yang terlalu formalistis.  Namun mereka yang merasa harga dirinya direndahkan seringkali menyebutnya sebagai seorang pemimpin yang otoriter. Sikapnya yang tegas dan straight forward seringkali diartikan sebagai sikap yang tidak penuh kehati-hatian dan terlalu menggampangkan.

Meskipun demikian, suatu saat nanti kita  akan merindukan kehadirannya.  Barangkali ketika sikap kehati-hatian dan basa-basi telah mengalami inflasi yang terlalu tinggi,,,

Rabu, 01 Februari 2012

Rolling On The Floor Laughing

Suratman, Sugiman, Suparman, sampai matinya tak tahu bahwa nasibnya, bersama nasib 900 juta rekannya di dunia, telah beribu kali didiskusikan, diseminarkan, dikonferensikan. Bahkan sehabis Dr. Soedarno Soemarto, Dr. Vivi Alatas, dan Prof. Mardiasmo berdiskusi dengan akrabnya di Yogyakarta, di tempat lain berliter wine dituang dari botol-botol ke gelas-gelas manis, dan "cheers! Wine toast!! … untuk kaum miskin di bumi manusia”. Seluruh pcserta meneguknya, meletakkan kembali gelasnya, dan bertepuk. Orang terharu, berpeluk-pelukan, hampir menitikkan air mata, menghayati kemiskinan, baik yang mutlak maupun yang sedang-sedang. Seandainya bunyi tepuk tangan terhadap kaum miskin direkam dari seminar demi seminar, dari Semarang sampai Birmingham, dibutuhkan ribuan terra harddisk sejumlah orang miskin di dunia sendiri. Dan golongan miskin pun akan menjadi kenyang. Jangan kasih rekaman diskusinya, sebab kemungkinan besar mereka bingung. Bagaimana menerangkan bahwa, setidaknya, ada guratan dari wajah seminar-seminar semacam itu yang klise? Bahwa beratus ribu kata dalam konferensi itu terbang bagai pawai burung di angkasa, yang sesudah letih melanglang buana begitu sukar menemukan dahan pepohonan atau kebun untuk hinggap?

Pernahkah diteliti berapa jumlah sarjana, master, dan doktor yang dihasilkan oleh tema kemiskinan, penindasan, keprihatinan? Apa sajakah relevansi atau irrelevansi dari yang dilakukan para sarjana kemiskinan itu dengan usaha memerangi kemiskinan? Berapakah derajat penurunan atau kenaikan kemiskinan berkat makin banyaknya para piawai yang makanan utamanya masalah kemiskinan? Seberapa jauhkah orang miskin bukan merupakan barang jualan baru bagi para intelektual-karieris? Pertanyaan semacam ini memang lahir dari bakat berprasangka buruk. Beberapa intelektual pusing tujuh keliling, suntuk mencari metode pembangunan demokratik, dan memaket beratus wejangan yang entah bagaimana nasibnya di gerbang pintu imperium bumi maupun bagian-bagiannya. Tapi kita tak putus asa. Dari sebuah tempat di Bumi Latin, kita kukupi kepingan itu, kita lemparkan kembali ke gerbang istana – memberi rekomendasi hampir ke seluruh kementerian, untuk menaburkan puluhan ton koin bagi usaha-usaha pembebasan segala bidang di negara-negara Dunia Ketiga.

Untuk itu kita perlu diskusi kebudayaan dan pembangunan empat hari. Dimulai dengan memperdebatkan kembali definisi kebudayaan versi Prof. Koentjaraningrat, cukup buntu karena para seminaris ini manusia-manusia ontologis, sedang jutaan orang yang diperbincangkan itu manusia lingkungan lumrah. Akan kita paksa mereka membebaskan diri dengan cara kita. Kemudian, tentulah, ditelusuri segala segi proses pembebasan ekonomis, sosial budaya, politis. Klise pengkelasan sosial ekonomi kita putar lagi: hari ini makan kaga? Besok makan kaga? Besok makan apa, enaknya? Besok asiknya makan di mana? Besok sebaiknya makan siapa?? Di hari keempat, dipersiapkan lunch yang bukan main mewah penuh warna-warni, dan artistik. Untuk itu diperlukan klise baru. Saudara-saudara, entah makanan ini tergolong kelas berapa, tapi toh ini khusus kalau seminar saja. (Seseorang membisikkan klise: Wah, beginilah kita, kering mulut mendiskusikan kemiskinan dan penderitaan, lantas pesta). Kemudian klise lagi: makan, berdikit-dikit, estetis, tapi kenyang. Tertawa, ngobrol, memperdebatkan teori dan terapan. . . Faaantastic! Isn't it?"

Inti diskusi itu adalah diskusi itu. Inti seminar itu adalah seminar itu. Bagus sekali diskusi kita, pemilihan orangnya cocok dengan temanya, cukup beragam sehingga tidak stereotip, dari yang paling kiri sampai yang paling kanan, terfokus tetapi longgar, dinamis. Sukses. Selamat, selamat.. Lalu kita menata pakaian, mengangkat kopor, berpelukan satu per satu. Lusa kita mendapat undangan seminar yang lain. Dan Suratman, Sugiman, Suparman, Hanoman masih setia dengan kartu domino, rokok, dan minum Lapen sampai ketawa ngakak guling-guling di lantai gardu…

Lah ko ada Hanoman?!

Jumat, 20 Januari 2012

Harga Manusia

Beribu kali mendengar apa yang disebut dengan manusia mekanik, sekrup, onderdil, hantu rutinitas yang labil. Tapi kalau melihat, apalagi mengalami sendiri, Anda akan mengerti apa artinya jiwa yang tak sempat bernafas. Di situ makna tertinggi kemerdekaan tersingkap dari rok yang berkibar. Membayangkan kebebasan itu siksaan, membayangkan penjara itu orgasme tersendiri.

Mungkin Anda hanya harus duduk dan menatap layar komputer selebar bahu. Begitu ringannya pekerjaan itu, tetapi satu dua jam saja cukup untuk mengerti apa arti neraka, apalagi ketika sebagian mulai naik pitam dan mempertanyakan kemampuan otak Anda. Atau Anda cukup mengontrol gerak beberapa orang agar tidak ‘anarkis’ keluar dari barisan, maka jadilah Anda pemain silat yang lihai sepanjang hari.

Di dalam derap rutinitas yang labil, seakan tak ada ruang sejengkal pun untuk mengganti suplai udara ke paru-paru dan napas bagi jiwa. Anda tidak tahu dimana sebenarnya Anda berada selama dua belas jam sehari itu. Dan kalau itu harus berlangsung sepanjang hidup, 30tahun masa dewasa dan usia baya, Anda bisa gila. Liburan, bir, film porno, musik bising yang menenangkan dirasa amat penting. Di masa tua Anda akan menjadi bijak atau terus mengomel sendiri sepanjang perjalanan pulang, bertambahnya usia akan menumpukkan ancaman.

Orang terlanjur terlau jauh membebaskan diri dari ‘neraka yang lain’. Individu disebut sedemikian rupa sampai pada taraf yang membuat semua orang kaget tercengang – bahwa sesungguhnya banyak bagian dari dirinya yang justru ditemukan pada orang lain. Santunan kepada individu tidak diserahkan kepada manusia tetapi kepada sistem sosial- yang kini semakin anggun, mewah, dan berperingkat tapi tak mampu menyodorkan kehangatan. Maka makin tua, Anda akan makin cemas; bukan kelaparan atau mati kedinginan tapi akan selalu termangu dan bertanya:

Untuk siapa dan apa gerangan aku bekerja keras hampir sepanjang hidup, jika akhirnya harga manusiaku makin sayup dari keberadaanku?

Barangkali itu salah satu alasan orang bisa patah hati pada model kemakmuran itu. Dengan kemakmuran orang sesungguhnya membayangkan suatu wadah dan energi untuk kehangatan dan cinta kasih tapi yang terjadi adalah suatu bangunan besar kesejahteraan yang memojokkan. Manusia hilang, sesudah dipertarungkan dengan sistem bagaimana megorganisasaikan kerja dan sumber dayanya, hubungan produksi dan kapasitas produksi, saling silang supply dan demand, kini sejarah terus ditantang oleh komplikasi kinerja, penilaian kinerja, dan upah kinerja.

Selalu ada yang sangat makmur, yang makmur, agak makmur, dan jauh dari kemakmuran, sementara pemerataan itu bayangan yang tak jelas sosoknya. Untuk siapa gerangan aku bekerja keras? Jika rabun-tidaknya mataku, jika tenaga tubuh dan keterampilan tanganku diukur persis nilai kapasitas produksinya, laju kebugaran yang menurun semakin dipercepat dengan boncengan laju kebahagiaan, momentum tumbukannya terlalu liar.

Tapi jangan bayangkan surga karena ada sekelompok kecil manusia yang hanya bisa lahir dai kejenuhan rohaniah terhadap gemerlap disekitarnya. Lalu seperti apakah keluhuran nilai yang diharapkan?

Sebentar lagi, giliran naga air yang menjawab..

Kamis, 19 Januari 2012

Berawal dari Armoury Road

Tulisan ini mencoba sedikit menceritakan divisi sepedamotor dari sebuah pabrik bernama Birmingham Small Arms Company LimitedBSA yang merupakan kelompok usaha manufaktur senjata api militer, sepedasepeda motormobilbus, karoseri, rangkabesi,  pembangkit listrikperalatan mesin, dan proses hard chromePada puncaknyaBSA merupakan produsen sepeda motor terbesar di dunia.

 Sesuai namanya yang mengandung unsur Birmingham dan Army, BSA berlokasi di Armoury Road, Small Heath, Birmingham distrik B11BSA  pertama kali buka pada 1863 dan memproduksi 20.000 senjata pesenan tentara Turki. Tahun 1880 mereka mulai membuat alat transportasi roda dua yang kita sebut Sepeda Pancal/Onthel. Kebanyakan pabrik sepeda motor memang membuat sepeda dulu. BSA mulai bereksperimen membuat sepeda motor pada tahun 1905. Waktu itu BSA masih identik dengan pabrik senjata api karena pesanan senjata api-nya 1200 unit per-minggu.



Tahun 1909, setelah bereksperimen selama 4 tahun dengan konsep sepeda motor-nya, akhirnya BSA mulai memproduksi speda motor selain tetap memproduksi sepeda engkol/pancal/onthel dan senjata api. BSA juga membuat mobil tapi mobil-mobil mereka tidak masuk ke Indonesia, seperti kebanyakan mobil Inggris tahun 1933, mobil BSA tipikal mobil sedang beroda 3, namanya BSA 3 Wheeler pada 1939.

Kembali ke motor BSA. Motor BSA pertama kali adalah BSA dengan tenaga 3.5hp dan dipamerkan di Olympia Show, tanggal 21 Oktober 1910. Perlu diingat sepeda dengan mesin yang disebut sepeda motor merupakan benda ajaib titisan para dewa (bagi orang barat sekalipun), karena itu adalah sepeda dimana penggunanya tidak perlu mengengkol untuk bisa menjalankannya.

Tahun 1928, BSA sudah memproduksi sepeda motor 2tak, A28-dengan 2 percepatan, tahun 1929 dan 1930 A28 digantikan dengan A29 dan A30 yang cuma ganti nama tapi motornya sama aja. Tahun 1931, keluar BSA 2tak model baru, A31 yang punya 3 percepatan. Sayangnya tipe-tipe ini tidak banyak diproduksi, diperkirakan cuma prototype-nya saja yang dibuat. Tapi seri 2tak ini merukapakna nenek moyang BSA Bantam. Tercatat BSA Bantam Bushman tahun 1969-1973 adalah BSA Bantam paling kenceng, maks speed motor 175cc 65mph atau sekitar 105 mph, kalah jauh sama prototype Yamaha RX-135 (masuk Indonesia jadi  RX-King) yang jadi eksperimennya Yamaha Jepang, walaupun cuma 135cc, tapi bisa ngebut sampai 130km/jam.

BSA yang jadi legenda hidup di dunia barat adalah BSA GoldStar. Berawal pada tahun 1937, seorang pembalap Inggris bernama Wal L. Handley berhasil ngebut dengan BSA Empire Star korekan  sampai 100mph (160km/h) dan mendapat medali bintang dari emas (disebut GoldStar) terinspirasi kejadian itu BSA membuat motor super kencang pada tahun 1937-1963. Selain Norton Manx dan Triumph Tiger, BSA Goldstar juga terkenal sebagai motor kencang di tahun 1950-an. Satu-satu-nya motor suksesor BSA Gold Star series ini adalah BSA B50 yang dibuat dari tahun 1971-1973 (tahuh 1973 BSA bisa dibilang bangkrut).

Kapan BSA masuk Indonesia?
Buku pelajaran sejarah waktu SMA lupa mencatat atau mungkin tidak mencatat bahwa tentara NICA yang mendarat ke Indonesia membawa BSA-BSA mereka ke Indonesia. Saat NICA yang di-boncengi Belanda pulang ke negara asal-nya (setelah perundingan-perundingan), mereka meninggalkan BSA nya di Indonesia. Sama seperti para tentara bule Amerika di Filipina yang juga meninggalkan mobil Jeep mereka di Filipina saat pulang ke Amerika. Setelah ditinggalkan, waktu itu tidak ada suku cadang motor BSA (jangankan jaman dulu, jaman sekarang aja onderdil motor BSA jg masi susah!!), akibatnya BSA-BSA itu terlantar dipinggir jalan dan teronggok di gudang-gudang.

Pada 1958, orang orang dari Siantar, Sumatra Utara, berburu BSA ke pulau Jawa, tepatnya di kota Surabaya, Semarang, dan Jakarta, sebagai kota bandar, tentu dulunya banyak tentara sekutu patroli pake BSA disana. Kemudian sepedamotor BSA itu ber-transmigrasi ke Siantar dengan naik kapal Tampomas II yang sudah tenggelam tahun 1981. Sejak saat itu pula BSA mulai di custom jadi becak Siantar sampai saat ini dilestarikan sebagai cagar budaya.


Kalau rusak gimana?
Becak Siantar Turun Mesin
Memang pabrik BSA sudah lama tutup, untungnya orang Indonesia adalah orang kreatif, maka onderdil motor jepang dikanibalkan di becak BSA. Apalagi di masa itu belum kenal internet dan berinteraksi dengan negara lain. Seperti karburatornya Kawasaki Binter atau Suzuki TS bisa dipake di BSA. Begitupun parts/accesories lain yang dibuat tiruan menyerupai aslinya –dengan agak dipaksakan-. Kata para sesepuh, BSA yang jadi becak Siantar itu tipe B31, B32 Goldstar, B40 350cc/500cc, dan banyaaakk lagi seri lain.

Sekian dulu...


 


 

Selasa, 10 Januari 2012

Bukan Pasar Malam

Sampai kini masih ada sebagian orang yang berpendapat bahwa kondisi sosial budaya Indonesia masih dicirikan oleh: (1) atmosfer kebijakan kerakyatan yang sarat basa-basi politik; (2) birokrasi yang terkadang hipokrit; dan (3) predikat negara korup (sebagian orang itu yg mana?). Wajarlah kalau republik ini diminta memulihkan citra, reputasi, dan daya-angkatnya terhadap martabat rakyat. Bukan kebijakan apabila negara membiarkan rakyatnya hidup dalam suasana yang diliputi kesukaran, penindasan, dan bencana. Dilihat dari sudut pandang geopolitik dan dominasi ekonomi negara maju, Indonesia dikategorikan sebagai Negara Selatan, negara yang sedang berkembang atau Dunia Ketiga. Kategori tersebut menurut Pramoedya Ananta Toer, merupakan pengganti istilah negeri miskin!

Masalah kemiskinan bukan hanya menimpa negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, akan tetapi masalah ini juga pernah dirasakan oleh negara-negara maju. Perbedaannya untuk negara-negara maju kemiskinan pada umumnya lebih sering menimpa pada para imigran. Sedekar contoh, Inggris dan Amerika Serikat pernah dihadapkan pada masalah ini. Inggris pernah mengalami kemiskinan-nasional di penghujung tahun 1700-an pada era kebangkitan revolusi industri di Eropa. Pada masa itu kaum miskin di Inggris berasal dari tenaga-tenaga kerja pabrik yang sebelumnya sebagai petani yang mendapatkan upah rendah, sehingga kemampuan daya belinya juga rendah. Mereka umumnya tinggal di permukiman kumuh yang rawan terhadap penyakit sosial seperti prostitusi, kriminalitas, pengangguran.

Sementara itu Amerika Serikat sebagai negara maju juga pernah dihadapi masalah kemiskinan, terutama pada masa resesi ekonomi tahun 1930-an. Bahkan, tahun 1960-an Amerika Serikat tercatat sebagai negara adi daya dan terkaya di dunia. Sebagian besar penduduknya hidup dalam kecukupan, Amerika Serikat juga telah banyak memberi bantuan kepada negara-negara lain. Namun, di balik keadaan itu tercatat sebanyak 32 juta orang atau 1/6 dari jumlah penduduknya tergolong miskin.

Apabila dirunut berdasarkan akar kemiskinan berdasarkan level permasalahan, maka kemiskinan dapat dibegi menjadi empat dimensi, yakni (i)dimensi mikro: kemiskinan akibat mentalitas materialistic dan ingin instan, (ii)dimensi mezzo: kemiskinan akibat melemahnya social trust, (iii)dimensi makro: kemiskinan akibat kesenjangan pembangunan, dan (iv) dimensi global: kemiskinan karena adanya ketidakseimbangan relasi antara negara maju dengan negara selatan?. Sementara itu di Indonesia masalah kemiskinan nampaknya masih terus menjadi “momok”. Meski laju pertumbuhan ekonomi pasca krisis 1997 meningkat, namun laju pengangguran juga meningkat.

Pertumbuhan ekonomi itu apa?
Pertumbuhan ekonomi menunjukkan pertumbuhan produksi barang dan jasa di suatu wilayah perekonomian dan dalam selang waktu tertentu. Produksi tersebut diukur dalam nilai tambah (value added) yang diciptakan oleh sektor-sektor ekonomi di wilayah bersangkutan yang secara total dikenal sebagai Produk Domestik Bruto (PDB). Oleh karena itu, pertumbuhan ekonomi adalah sama dengan pertumbuhan PDB. Apabila “diibaratkan” kue, PDB adalah besarnya kue tersebut. Pertumbuhan ekonomi sama dengan membesarnya “kue” tersebut yang pengukurannya merupakan persentase pertambahan PDB pada tahun tertentu terhadap PDB tahun sebelumnya. PDB disajikan dalam dua konsep harga, yaitu harga berlaku dan harga konstan; dan penghitungan pertumbuhan ekonomi menggunakan konsep harga konstan (constant prices) dengan tahun dasar tertentu untuk mengeliminasi faktor kenaikan harga. Saat ini BPS menggunakan tahun dasar 2000. Nilai tambah juga merupakan balas jasa faktor produksi (tenaga kerja, tanah, modal, dan entrepreneurship) yang digunakan untuk memproduksi barang dan jasa. Pertumbuhan ekonomi yang dihitung dari PDB hanya mempertimbangkan domestik, yang tidak mempedulikan kepemilikan faktor produksi.

Berikut ini data PDB dengan berbagai turunannya.
Pertumbuhan PDB Menurut Lapangan Usaha (Tahun 2007–Semester I 2011)
Ekonomi Indonesia selama tahun 2007–2010 mengalami pertumbuhan masing-masing sebesar 6,3 % (2007), 6,0 % (2008), 4,6 % (2009) dan 6,1 % (2010) dibanding tahun sebelumnya. Sementara pada semester I tahun 2011 bila dibandingkan dengan semester II tahun 2010 tumbuh sebesar 2,2 % dan bila dibandingkan dengan semester I tahun 2010 (y-on-y) tumbuh sebesar 6,5 %.

Angka-angka tersebut diperoleh dari penerapan rumus di samping  ke dalam besaran PDB tahun 2006-2009 serta semester I tahun 2010 atas dasar harga konstan 2000.



Struktur PDB Menurut Lapangan Usaha (Tahun 2007–Semester I 2011)
Distribusi PDB menurut sektor atau lapangan usaha atas dasar harga berlaku menunjukkan peran sektor-sektor ekonomi pada tahun tersebut. Tiga sektor utama: sektor pertanian, industri-pengolahan, dan perdagangan, hotel, dan restoran mempunyai peran lebih dari separuh dari total perekonomian yaitu sebesar 55,8 % pada tahun 2007, 56,3 % (2008), 54,9 % (2009) dan 53,9 % (2010) serta 53,4 % pada semester I tahun 2011. Pada tahun 2010 sektor industri-pengolahan memberi kontribusi terhadap total perekonomian sebesar 24,8 %, sektor pertanian 15,3 %, dan sektor perdagangan-hotel-restoran 10,3 %; sama halnya pada semester I tahun 2011 komposisi ini tidak berubah yaitu sektor industri pengolahan sebesar 24,2 %, sektor pertanian 15,5 %, dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran 10,1 %

Pertumbuhan PDB Menurut Penggunaan (Tahun 2007–Semester I 2011)
Pertumbuhan ekonomi Indonesia, dari sisi pengeluaran, pada tahun 2007 hingga semester 1 tahun 2011 selalu menunjukkan pertumbuhan positif kecuali ekspor dan impor barang dan jasa yang mengalami pertumbuhan yang negatif pada tahun 2009. Pada tahun 2010, konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 4,6 %, konsumsi pemerintah sebesar 0,3 %, pembentukan modal tetap bruto sebesar 8,5 %, ekspor barang dan jasa sebesar 14,9 % dan impor barang dan jasa sebesar 17,3 %. Pertumbuhan ekonomi sampai dengan semester I tahun 2011 juga menunjukkan peningkatan. Pertumbuhan ekonomi semester I tahun
2011 terhadap semester I tahun 2010 (y-on-y) meningkat sebesar 6,5 %. Peningkatan tertinggi terjadi pada komponen pembentukan modal masing-masing sebesar 15,8 %, 14,9 %, dan 8,3 %. Sumber pertumbuhan terbesar semester I tahun 2011 dibandingkan dengan semester I 2010 berasal komponen ekspor barang dan jasa sebesar 6,6 %

Struktur PDB Menurut Penggunaan (Tahun 2007–Semester I 2011)
Dilihat dari distribusi PDB penggunaan, konsumsi rumah tangga masih merupakan penyumbang terbesar dalam penggunaan PDB Indonesia; yaitu sebesar 63,5 % (2007), 60,6 % (2008), 58,7 % (2009) dan 56,7 % (2010) serta 54,9 % pada semester I tahun 2011. Komponen penggunaan lainnya yang cukup berperan yaitu pembentukan modal tetap bruto. Pada tahun 2007 peranan pembentukan tetap bruto sebesar 25,0 % dan meningkat lebih tinggi menjadi 32,2 % pada tahun 2010 dan 31,5 % pada semester I tahun 2011.

PDB dan Produk Nasional Bruto (PNB) Per Kapita Tahun 2007–2010.
PDB/PNB per kapita adalah PDB/PNB (atas dasar harga berlaku) dibagi dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. Selama tahun 2007–2010 PDB per kapita terus mengalami peningkatan yaitu pada tahun 2007 sebesar Rp17,4 juta (US$1.922,0), tahun 2008 sebesar Rp21,4 juta (US$2.245,2), tahun 2009 sebesar Rp23,9 juta (US$2.349,6), dan tahun 2010 sebesar Rp27,0 juta (US$3.004,9). Demikian juga, PNB per kapita juga terus meningkat selama tahun 2007–2010. PNB per kapita pada tahun 2007 sebesar Rp16,7 juta (US$1.843,1) meningkat menjadi Rp26,3 juta (US$2.920,1) pada tahun 2010.

Bagaimana dengan yang miskin?
Jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia pada September 2011 mencapai 29,89 juta orang (12,36 %), turun 0,13 juta orang (0,13 %) dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2011 yang sebesar 30,02 juta orang (12,49 %). Selama periode Maret 2011–September 2011, penduduk miskin di daerah perkotaan berkurang 0,09 juta orang (dari 11,05 juta orang pada Maret 2011 menjadi 10,95 juta orang pada September 2011), sementara di daerah perdesaan berkurang 0,04 juta orang (dari 18,97 juta orang pada Maret 2011 menjadi 18,94 juta orang pada September 2011). persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan perdesaan tidak banyak berubah selama periode ini. Penduduk miskin di daerah perkotaan pada Maret 2011 sebesar 9,23 %, menurun sedikit menjadi 9,09 % pada September 2011. Penduduk miskin di daerah perdesaan pada Maret 2011 sebesar 15,72 %, juga menurun sedikit menjadi 15,59 % pada September 2011.


Ada beberapa hal yang perlu dicermati mengapa laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak diikuti dengan penyediaan lapangan kerja, sehingga tidak mampu menyelesaikan masalah kemiskinan. Pertama, pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Indonesia belum ditopang dengan sektor-sektor yang memiliki elastisitas lapangan kerja yang tinggi. Akibatnya belum mampu menyelesaikan masalah kemiskinan. Pertumbuhan ekonomi seperti ini umumnya memberikan pemihakan pada sektor sektor tertentu sehingga mempersempit peluang berkembangnya sektor lain, yang pada akhirnya akan berakibat pada berkurangnya jenis lapangan kerja yang tersedia. Kedua, laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Indonesia masih terkonsentrasi di daerah-daerah di Jawa, mungkin sebagian Sumatera, dan beberapa kota besar lainnya, akibatnya laju pertumbuhan ekonomi ini tidak mampu mengatasi masalah kemiskinan. Padahal melalui laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi diharapkan mampu menyediakan lapangan kerja yang cukup. Dengan demikian akan berdampak pada pemberdayaan masyarakat setempat.

Pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan bisa jadi seperti kontrasnya pasar malam dan upah para pekerjanya. Paradoks tadi mencerminkan bahwa tingginya tingkat pertumbuhan ekonomi yang dialami selama ini masih bersifat semu. Padahal laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi merupakan necessary condition bagi pengurangan kemiskinan. Nampaknya terdapat syarat lainnya yang belum dipenuhi, yakni sufficient condition. Laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi harus efektif mengurangi kemiskinan.

Trus solusinya bagaimana?
-entahlah!!-



Sumber:
 APBN 1997-2011 dan Data BPS