Rabu, 15 Februari 2012

Relativisme Ndak Tentu

Bukan hanya karena kebanyakan watak orang Madura termasuk saklek, efektif, dan memiliki kecenderungan anti eufimisme. Mereka juga memiliki hobi mengucapkan “tidak tentu” – yang dilogatkan menjadi ndak tentu, adat ini telah membuat saya jatuh hati.
Ndak tentu merupakan perwujudan dari kesadaran terhadap relativitas. Pada prakteknya, ungkapan tersebut boleh dibilang sebagai bentuk kehati-hatian yang tinggi terhadap berbagai ketidakpastian hidup. Dengan bersikap ndak tentu, mereka akan lebih terjaga di antara dua kutub nilai atau keadaan yang bisa menjebak. Kesadaran ndak tentu membuat mereka tidak terlalu mabuk gembira jika memperoleh rezeki ataupun stress berkepanjangan jika tertimpa musibah.
Dulu saya kurang percaya dengan hobi ndak tentu, sebab yang sering saya dengar hanya jokes kurang bermutu. Misalnya, pernah menjelang akhir tahun 2011 silam ada seorang petugas survey mendatangi pasar ikan hias di jalan Sumenep Jakarta Pusat, dia bermaksud mengetahui tingkat nasionalisme wong cilik di daerah tersebut.
Petugas tersebut bertanya, “Cak, siapa Presiden Indonesia sekarang?”
Sambil menata tanaman air, si pedagang menjawab sekenanya, “Ooo, ndak tentu Pak..”
Serasa ditonjok jidatnya, si petugas terus mengejar bertanya, “ndak tentu bagaimana?” Pertanyaan tadi adalah pertanyaan paling mudah di seluruh nusantara, dan jawaban ndak tentu sungguh harus diwaspadai.
“yaa kadang-kadang Mario Teguh, kadang-kadang Sule OVJ, pokoknya ndak tentu pak, aku cuma liat gambar yang sering nongol di tivi” jawab si pedagang ikan hias.
Pecah isi kepala, si petugas survey mulai naik pitam, “Trus kalau Pak Karno itu siapa?”
Dengan tenang si pedagang ikan hias menjawab, “Ooo, laeenn, Pak Karno bukan presiden tapi rajaaa!”
Jokes tadi tidak saya setujui karena hendaknya kita jangan saling meremehkan di antara sesama anak bangsa. Tapi beberapa waktu lalu dengan menunggangi kuda besi dan berbekal rasa kenyang hasil traktiran bakso calon pemgusaha konveksi, saya berkunjung ke kampus Bintaro dan secara tidak sengaja bertemu dengan kawan lama yang blasteran Madura-Surabaya dan legenda ndak tentu itu nongol di depan hidung saya.
Di tengah obrolan saya dengan sang kawan tadi tercetuslah topik tentang sistem perekonomian syariah, mungkin karena sedang musim pemikiran reaktualisasi ajaran Islam. Si kawan tertawa dan menepis, “Ahh, kodok nunggang kebo! Buat apa ngurusi kaya begitu, hukum makan minum aja kita belum fasih”
Saya membantah, “Lho kan jelas, makan minum itu hukumnya mubah!”
Sang kawan tertawa lagi, “Ooo, ndak tentu Dit”
Selain kaget oleh ide jawaban tadi, saya juga terhenyak oleh kata ndak tentu. “Ndak tentu gimana? Hukum ko ndak tentu?!” tukas saya.
“Ya ndak tentu, kalo kamu ndak makan berarti telah menghina ragamu yang merupakan titipan Tuhan, kecuali kamu bisa hidup tanpa makan. Lha kalo makan minum berlebihan baik jumlah maupun ‘estetikanya’ itu lebih beda hukumnya. Apalagi kalau makan punya orang, makan jembatan, kayu hutan, perkebunan, minum bendungan,,,” ajawab kawan saya.
“Wasssyyuuu,, gawean pemeriksa ga usah dibawa kemari” potongku kesal.
Mungkin benar jika hukum seharusnya bersifat parsial-statis, tapi mulai hari itu saya setuju bahwa hukum itu bersifat kontekstual-dinamis. Kalau bahasa Maduranya ya ndak tentu.


Jumat, 03 Februari 2012

KamuLuYou

Merupakan hal lumrah untuk maksud yang sama kita kadang menggunakan kata atau sebutan yang berbeda.  Contohnya, untuk kata ganti orang kedua bisa menggunakan kata Anda, Saudara, Kamu, Lu, atau dengan menyebutkan nama di belakang sebutan Bapak, Ibu, Saudara, (Bapak Suratman, Ibu Suprapti, Saudara Sugiman) atau sebutan lainnya.  Pilihan kata atau sebutan tersebut seringkali tergantung pada konteks komunitas lingkungan dimana komunikasi tersebut dilakukan.

Dalam konteks komunitas informal seperti pergaulan di kampus atau persahabatan orang dewasa di rumah, sekolah, bengkel, mall atau di tempat-tempat umum lainnya biasanya digunakan pilihan kata-kata pertemanan Kamu-Aku atau Lu-Gue. Dalam konteks komunitas yang bersifat formal seperti dalam acara rapat/pertemuan di kantor atau kegiatan-kegiatan sosial di masyarakat  biasanya menggunakan kata Anda, Saudara, atau nama di belakang sebutan Pak/Bapak, Bu/Ibu, atau Saudara.

Terasa aneh ketika kata-kata yang biasa digunakan dalam konteks informal, misalnya kata “kamu”, kemudian digunakan dalam konteks  formal. Sekarang coba bayangkan seandainya kita mempunyai seorang atasan baru yang masih berusia muda dan mempunyai kebiasaan menyebut “kamu” kepada setiap stafnya, termasuk kepada mereka yang lebih tua, dalam forum pertemuan resmi di kantor. Pertanyaan yang mengusik saya, mengapa orang sering merasa bahwa harga diri dan martabatnya seakan direndahkan oleh ucapan “kamu” oleh sang atasan? Selain itu, mengapa sang atasan tetap mempertahankan kebiasaan tersebut meskipun dia tahu semua atau sebagian besar stafnya tidak menyukainya?


Sesuatu yang tidak biasa cenderung akan menarik perhatian.

Energi emosi akan berkumpul di satu titik. Ketika sesuatu itu merupakan hal yang menyenangkan maka manusia akan (melepas energi emosi dan) merasakan kesenangan yang luar biasa. Sebaliknya, ketika sesuatu itu merupakan hal yang menyakiti perasaan maka manusia pun cenderung akan merasakan kesedihan (kebencian?) yang luar biasa pula.  Hal lain yang perlu diingat adalah bahwa ucapan “kamu” sebenarnya bisa mempunyai makna yang berbeda, tergantung pada intonasi suara dan bahasa tubuh yang diperlihatkan oleh orang yang mengucapkannya. Kita bisa dengan mudah membedakan makna ucapan “kamu” dalam kalimat “Nduk, kamu harus tetap tegar menghadapi cobaan hidup ini” yang diucapkan oleh seorang Bapak kepada anak perempuannya dan kalimat “Kamu harus ingat bahwa untuk masalah yang satu ini saya tidak pernah main-main” yang diucapkan oleh seorang atasan kepada stafnya.

Ada satu lagi yang perlu diperhatikan di sini. Hal yang membuat seseorang merasa harga dirinya direndahkan bukanlah semata-mata karena ucapan sang atasan, tapi juga karena tingkat sensitivitasnya untuk menerima ucapan tersebut.  Karena tingkat akseptabilitas terhadap kata “kamu” yang diucapkan oleh atasan bisa berbeda di antara para stafnya, maka sesungguhnya respon terhadap ucapan tersebut pun bisa berbeda. Bukan tidak mungkin sebagian di antara staf tadi menganggap sebutan “kamu” yang diucapkan oleh atasan tersebut sebagai “sesuatu yang tidak penting”.  Ucapan tersebut, menurut mereka, sama sekali tidak berpengaruh pada martabat dan harga diri mereka.

Pertanyaan berikutnya, mengapa atasan tadi tetap mempertahankan kebiasaan tersebut meskipun dia tahu semua atau sebagian besar stafnya tidak menyukainya? *(diulangi lagi). Kemungkinan pertama adalah dia menganggap kebiasaan tersebut merupakan gaya ekspresi yang dipilih sebagai identitasnya, tanpa diboncengi oleh niat atau kepentingan apapun. Setiap orang, menurutnya, berhak untuk memilih menggunakan kata ganti kedua manapun, termasuk “kamu” dan juga “you”, dalam berkomunikasi dengan orang lain.  Kemungkinan berikutnya, dengan menggunakan sebutan “kamu” kepada stafnya dia berharap si staf akan memperhatikan dan merespon sesuai dengan keinginannya.  Kata “kamu” di sini barangkali merupakan simbol ketegasan dan sikap straight forward, tanpa basa-basi, yang ingin diperlihatkannya.


Seorang atasan atau pemimpin yang biasa menggunakan sebutan “kamu” kepada stafnya dalam setiap acara pertemuan mungkin bermaksud baik, supaya pertemuan tersebut dapat berlangsung dalam suasana kekeluargaan atau kebersamaan tanpa ikatan yang terlalu formalistis.  Namun mereka yang merasa harga dirinya direndahkan seringkali menyebutnya sebagai seorang pemimpin yang otoriter. Sikapnya yang tegas dan straight forward seringkali diartikan sebagai sikap yang tidak penuh kehati-hatian dan terlalu menggampangkan.

Meskipun demikian, suatu saat nanti kita  akan merindukan kehadirannya.  Barangkali ketika sikap kehati-hatian dan basa-basi telah mengalami inflasi yang terlalu tinggi,,,

Rabu, 01 Februari 2012

Rolling On The Floor Laughing

Suratman, Sugiman, Suparman, sampai matinya tak tahu bahwa nasibnya, bersama nasib 900 juta rekannya di dunia, telah beribu kali didiskusikan, diseminarkan, dikonferensikan. Bahkan sehabis Dr. Soedarno Soemarto, Dr. Vivi Alatas, dan Prof. Mardiasmo berdiskusi dengan akrabnya di Yogyakarta, di tempat lain berliter wine dituang dari botol-botol ke gelas-gelas manis, dan "cheers! Wine toast!! … untuk kaum miskin di bumi manusia”. Seluruh pcserta meneguknya, meletakkan kembali gelasnya, dan bertepuk. Orang terharu, berpeluk-pelukan, hampir menitikkan air mata, menghayati kemiskinan, baik yang mutlak maupun yang sedang-sedang. Seandainya bunyi tepuk tangan terhadap kaum miskin direkam dari seminar demi seminar, dari Semarang sampai Birmingham, dibutuhkan ribuan terra harddisk sejumlah orang miskin di dunia sendiri. Dan golongan miskin pun akan menjadi kenyang. Jangan kasih rekaman diskusinya, sebab kemungkinan besar mereka bingung. Bagaimana menerangkan bahwa, setidaknya, ada guratan dari wajah seminar-seminar semacam itu yang klise? Bahwa beratus ribu kata dalam konferensi itu terbang bagai pawai burung di angkasa, yang sesudah letih melanglang buana begitu sukar menemukan dahan pepohonan atau kebun untuk hinggap?

Pernahkah diteliti berapa jumlah sarjana, master, dan doktor yang dihasilkan oleh tema kemiskinan, penindasan, keprihatinan? Apa sajakah relevansi atau irrelevansi dari yang dilakukan para sarjana kemiskinan itu dengan usaha memerangi kemiskinan? Berapakah derajat penurunan atau kenaikan kemiskinan berkat makin banyaknya para piawai yang makanan utamanya masalah kemiskinan? Seberapa jauhkah orang miskin bukan merupakan barang jualan baru bagi para intelektual-karieris? Pertanyaan semacam ini memang lahir dari bakat berprasangka buruk. Beberapa intelektual pusing tujuh keliling, suntuk mencari metode pembangunan demokratik, dan memaket beratus wejangan yang entah bagaimana nasibnya di gerbang pintu imperium bumi maupun bagian-bagiannya. Tapi kita tak putus asa. Dari sebuah tempat di Bumi Latin, kita kukupi kepingan itu, kita lemparkan kembali ke gerbang istana – memberi rekomendasi hampir ke seluruh kementerian, untuk menaburkan puluhan ton koin bagi usaha-usaha pembebasan segala bidang di negara-negara Dunia Ketiga.

Untuk itu kita perlu diskusi kebudayaan dan pembangunan empat hari. Dimulai dengan memperdebatkan kembali definisi kebudayaan versi Prof. Koentjaraningrat, cukup buntu karena para seminaris ini manusia-manusia ontologis, sedang jutaan orang yang diperbincangkan itu manusia lingkungan lumrah. Akan kita paksa mereka membebaskan diri dengan cara kita. Kemudian, tentulah, ditelusuri segala segi proses pembebasan ekonomis, sosial budaya, politis. Klise pengkelasan sosial ekonomi kita putar lagi: hari ini makan kaga? Besok makan kaga? Besok makan apa, enaknya? Besok asiknya makan di mana? Besok sebaiknya makan siapa?? Di hari keempat, dipersiapkan lunch yang bukan main mewah penuh warna-warni, dan artistik. Untuk itu diperlukan klise baru. Saudara-saudara, entah makanan ini tergolong kelas berapa, tapi toh ini khusus kalau seminar saja. (Seseorang membisikkan klise: Wah, beginilah kita, kering mulut mendiskusikan kemiskinan dan penderitaan, lantas pesta). Kemudian klise lagi: makan, berdikit-dikit, estetis, tapi kenyang. Tertawa, ngobrol, memperdebatkan teori dan terapan. . . Faaantastic! Isn't it?"

Inti diskusi itu adalah diskusi itu. Inti seminar itu adalah seminar itu. Bagus sekali diskusi kita, pemilihan orangnya cocok dengan temanya, cukup beragam sehingga tidak stereotip, dari yang paling kiri sampai yang paling kanan, terfokus tetapi longgar, dinamis. Sukses. Selamat, selamat.. Lalu kita menata pakaian, mengangkat kopor, berpelukan satu per satu. Lusa kita mendapat undangan seminar yang lain. Dan Suratman, Sugiman, Suparman, Hanoman masih setia dengan kartu domino, rokok, dan minum Lapen sampai ketawa ngakak guling-guling di lantai gardu…

Lah ko ada Hanoman?!

Jumat, 20 Januari 2012

Harga Manusia

Beribu kali mendengar apa yang disebut dengan manusia mekanik, sekrup, onderdil, hantu rutinitas yang labil. Tapi kalau melihat, apalagi mengalami sendiri, Anda akan mengerti apa artinya jiwa yang tak sempat bernafas. Di situ makna tertinggi kemerdekaan tersingkap dari rok yang berkibar. Membayangkan kebebasan itu siksaan, membayangkan penjara itu orgasme tersendiri.

Mungkin Anda hanya harus duduk dan menatap layar komputer selebar bahu. Begitu ringannya pekerjaan itu, tetapi satu dua jam saja cukup untuk mengerti apa arti neraka, apalagi ketika sebagian mulai naik pitam dan mempertanyakan kemampuan otak Anda. Atau Anda cukup mengontrol gerak beberapa orang agar tidak ‘anarkis’ keluar dari barisan, maka jadilah Anda pemain silat yang lihai sepanjang hari.

Di dalam derap rutinitas yang labil, seakan tak ada ruang sejengkal pun untuk mengganti suplai udara ke paru-paru dan napas bagi jiwa. Anda tidak tahu dimana sebenarnya Anda berada selama dua belas jam sehari itu. Dan kalau itu harus berlangsung sepanjang hidup, 30tahun masa dewasa dan usia baya, Anda bisa gila. Liburan, bir, film porno, musik bising yang menenangkan dirasa amat penting. Di masa tua Anda akan menjadi bijak atau terus mengomel sendiri sepanjang perjalanan pulang, bertambahnya usia akan menumpukkan ancaman.

Orang terlanjur terlau jauh membebaskan diri dari ‘neraka yang lain’. Individu disebut sedemikian rupa sampai pada taraf yang membuat semua orang kaget tercengang – bahwa sesungguhnya banyak bagian dari dirinya yang justru ditemukan pada orang lain. Santunan kepada individu tidak diserahkan kepada manusia tetapi kepada sistem sosial- yang kini semakin anggun, mewah, dan berperingkat tapi tak mampu menyodorkan kehangatan. Maka makin tua, Anda akan makin cemas; bukan kelaparan atau mati kedinginan tapi akan selalu termangu dan bertanya:

Untuk siapa dan apa gerangan aku bekerja keras hampir sepanjang hidup, jika akhirnya harga manusiaku makin sayup dari keberadaanku?

Barangkali itu salah satu alasan orang bisa patah hati pada model kemakmuran itu. Dengan kemakmuran orang sesungguhnya membayangkan suatu wadah dan energi untuk kehangatan dan cinta kasih tapi yang terjadi adalah suatu bangunan besar kesejahteraan yang memojokkan. Manusia hilang, sesudah dipertarungkan dengan sistem bagaimana megorganisasaikan kerja dan sumber dayanya, hubungan produksi dan kapasitas produksi, saling silang supply dan demand, kini sejarah terus ditantang oleh komplikasi kinerja, penilaian kinerja, dan upah kinerja.

Selalu ada yang sangat makmur, yang makmur, agak makmur, dan jauh dari kemakmuran, sementara pemerataan itu bayangan yang tak jelas sosoknya. Untuk siapa gerangan aku bekerja keras? Jika rabun-tidaknya mataku, jika tenaga tubuh dan keterampilan tanganku diukur persis nilai kapasitas produksinya, laju kebugaran yang menurun semakin dipercepat dengan boncengan laju kebahagiaan, momentum tumbukannya terlalu liar.

Tapi jangan bayangkan surga karena ada sekelompok kecil manusia yang hanya bisa lahir dai kejenuhan rohaniah terhadap gemerlap disekitarnya. Lalu seperti apakah keluhuran nilai yang diharapkan?

Sebentar lagi, giliran naga air yang menjawab..

Kamis, 19 Januari 2012

Berawal dari Armoury Road

Tulisan ini mencoba sedikit menceritakan divisi sepedamotor dari sebuah pabrik bernama Birmingham Small Arms Company LimitedBSA yang merupakan kelompok usaha manufaktur senjata api militer, sepedasepeda motormobilbus, karoseri, rangkabesi,  pembangkit listrikperalatan mesin, dan proses hard chromePada puncaknyaBSA merupakan produsen sepeda motor terbesar di dunia.

 Sesuai namanya yang mengandung unsur Birmingham dan Army, BSA berlokasi di Armoury Road, Small Heath, Birmingham distrik B11BSA  pertama kali buka pada 1863 dan memproduksi 20.000 senjata pesenan tentara Turki. Tahun 1880 mereka mulai membuat alat transportasi roda dua yang kita sebut Sepeda Pancal/Onthel. Kebanyakan pabrik sepeda motor memang membuat sepeda dulu. BSA mulai bereksperimen membuat sepeda motor pada tahun 1905. Waktu itu BSA masih identik dengan pabrik senjata api karena pesanan senjata api-nya 1200 unit per-minggu.



Tahun 1909, setelah bereksperimen selama 4 tahun dengan konsep sepeda motor-nya, akhirnya BSA mulai memproduksi speda motor selain tetap memproduksi sepeda engkol/pancal/onthel dan senjata api. BSA juga membuat mobil tapi mobil-mobil mereka tidak masuk ke Indonesia, seperti kebanyakan mobil Inggris tahun 1933, mobil BSA tipikal mobil sedang beroda 3, namanya BSA 3 Wheeler pada 1939.

Kembali ke motor BSA. Motor BSA pertama kali adalah BSA dengan tenaga 3.5hp dan dipamerkan di Olympia Show, tanggal 21 Oktober 1910. Perlu diingat sepeda dengan mesin yang disebut sepeda motor merupakan benda ajaib titisan para dewa (bagi orang barat sekalipun), karena itu adalah sepeda dimana penggunanya tidak perlu mengengkol untuk bisa menjalankannya.

Tahun 1928, BSA sudah memproduksi sepeda motor 2tak, A28-dengan 2 percepatan, tahun 1929 dan 1930 A28 digantikan dengan A29 dan A30 yang cuma ganti nama tapi motornya sama aja. Tahun 1931, keluar BSA 2tak model baru, A31 yang punya 3 percepatan. Sayangnya tipe-tipe ini tidak banyak diproduksi, diperkirakan cuma prototype-nya saja yang dibuat. Tapi seri 2tak ini merukapakna nenek moyang BSA Bantam. Tercatat BSA Bantam Bushman tahun 1969-1973 adalah BSA Bantam paling kenceng, maks speed motor 175cc 65mph atau sekitar 105 mph, kalah jauh sama prototype Yamaha RX-135 (masuk Indonesia jadi  RX-King) yang jadi eksperimennya Yamaha Jepang, walaupun cuma 135cc, tapi bisa ngebut sampai 130km/jam.

BSA yang jadi legenda hidup di dunia barat adalah BSA GoldStar. Berawal pada tahun 1937, seorang pembalap Inggris bernama Wal L. Handley berhasil ngebut dengan BSA Empire Star korekan  sampai 100mph (160km/h) dan mendapat medali bintang dari emas (disebut GoldStar) terinspirasi kejadian itu BSA membuat motor super kencang pada tahun 1937-1963. Selain Norton Manx dan Triumph Tiger, BSA Goldstar juga terkenal sebagai motor kencang di tahun 1950-an. Satu-satu-nya motor suksesor BSA Gold Star series ini adalah BSA B50 yang dibuat dari tahun 1971-1973 (tahuh 1973 BSA bisa dibilang bangkrut).

Kapan BSA masuk Indonesia?
Buku pelajaran sejarah waktu SMA lupa mencatat atau mungkin tidak mencatat bahwa tentara NICA yang mendarat ke Indonesia membawa BSA-BSA mereka ke Indonesia. Saat NICA yang di-boncengi Belanda pulang ke negara asal-nya (setelah perundingan-perundingan), mereka meninggalkan BSA nya di Indonesia. Sama seperti para tentara bule Amerika di Filipina yang juga meninggalkan mobil Jeep mereka di Filipina saat pulang ke Amerika. Setelah ditinggalkan, waktu itu tidak ada suku cadang motor BSA (jangankan jaman dulu, jaman sekarang aja onderdil motor BSA jg masi susah!!), akibatnya BSA-BSA itu terlantar dipinggir jalan dan teronggok di gudang-gudang.

Pada 1958, orang orang dari Siantar, Sumatra Utara, berburu BSA ke pulau Jawa, tepatnya di kota Surabaya, Semarang, dan Jakarta, sebagai kota bandar, tentu dulunya banyak tentara sekutu patroli pake BSA disana. Kemudian sepedamotor BSA itu ber-transmigrasi ke Siantar dengan naik kapal Tampomas II yang sudah tenggelam tahun 1981. Sejak saat itu pula BSA mulai di custom jadi becak Siantar sampai saat ini dilestarikan sebagai cagar budaya.


Kalau rusak gimana?
Becak Siantar Turun Mesin
Memang pabrik BSA sudah lama tutup, untungnya orang Indonesia adalah orang kreatif, maka onderdil motor jepang dikanibalkan di becak BSA. Apalagi di masa itu belum kenal internet dan berinteraksi dengan negara lain. Seperti karburatornya Kawasaki Binter atau Suzuki TS bisa dipake di BSA. Begitupun parts/accesories lain yang dibuat tiruan menyerupai aslinya –dengan agak dipaksakan-. Kata para sesepuh, BSA yang jadi becak Siantar itu tipe B31, B32 Goldstar, B40 350cc/500cc, dan banyaaakk lagi seri lain.

Sekian dulu...


 


 

Selasa, 10 Januari 2012

Bukan Pasar Malam

Sampai kini masih ada sebagian orang yang berpendapat bahwa kondisi sosial budaya Indonesia masih dicirikan oleh: (1) atmosfer kebijakan kerakyatan yang sarat basa-basi politik; (2) birokrasi yang terkadang hipokrit; dan (3) predikat negara korup (sebagian orang itu yg mana?). Wajarlah kalau republik ini diminta memulihkan citra, reputasi, dan daya-angkatnya terhadap martabat rakyat. Bukan kebijakan apabila negara membiarkan rakyatnya hidup dalam suasana yang diliputi kesukaran, penindasan, dan bencana. Dilihat dari sudut pandang geopolitik dan dominasi ekonomi negara maju, Indonesia dikategorikan sebagai Negara Selatan, negara yang sedang berkembang atau Dunia Ketiga. Kategori tersebut menurut Pramoedya Ananta Toer, merupakan pengganti istilah negeri miskin!

Masalah kemiskinan bukan hanya menimpa negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, akan tetapi masalah ini juga pernah dirasakan oleh negara-negara maju. Perbedaannya untuk negara-negara maju kemiskinan pada umumnya lebih sering menimpa pada para imigran. Sedekar contoh, Inggris dan Amerika Serikat pernah dihadapkan pada masalah ini. Inggris pernah mengalami kemiskinan-nasional di penghujung tahun 1700-an pada era kebangkitan revolusi industri di Eropa. Pada masa itu kaum miskin di Inggris berasal dari tenaga-tenaga kerja pabrik yang sebelumnya sebagai petani yang mendapatkan upah rendah, sehingga kemampuan daya belinya juga rendah. Mereka umumnya tinggal di permukiman kumuh yang rawan terhadap penyakit sosial seperti prostitusi, kriminalitas, pengangguran.

Sementara itu Amerika Serikat sebagai negara maju juga pernah dihadapi masalah kemiskinan, terutama pada masa resesi ekonomi tahun 1930-an. Bahkan, tahun 1960-an Amerika Serikat tercatat sebagai negara adi daya dan terkaya di dunia. Sebagian besar penduduknya hidup dalam kecukupan, Amerika Serikat juga telah banyak memberi bantuan kepada negara-negara lain. Namun, di balik keadaan itu tercatat sebanyak 32 juta orang atau 1/6 dari jumlah penduduknya tergolong miskin.

Apabila dirunut berdasarkan akar kemiskinan berdasarkan level permasalahan, maka kemiskinan dapat dibegi menjadi empat dimensi, yakni (i)dimensi mikro: kemiskinan akibat mentalitas materialistic dan ingin instan, (ii)dimensi mezzo: kemiskinan akibat melemahnya social trust, (iii)dimensi makro: kemiskinan akibat kesenjangan pembangunan, dan (iv) dimensi global: kemiskinan karena adanya ketidakseimbangan relasi antara negara maju dengan negara selatan?. Sementara itu di Indonesia masalah kemiskinan nampaknya masih terus menjadi “momok”. Meski laju pertumbuhan ekonomi pasca krisis 1997 meningkat, namun laju pengangguran juga meningkat.

Pertumbuhan ekonomi itu apa?
Pertumbuhan ekonomi menunjukkan pertumbuhan produksi barang dan jasa di suatu wilayah perekonomian dan dalam selang waktu tertentu. Produksi tersebut diukur dalam nilai tambah (value added) yang diciptakan oleh sektor-sektor ekonomi di wilayah bersangkutan yang secara total dikenal sebagai Produk Domestik Bruto (PDB). Oleh karena itu, pertumbuhan ekonomi adalah sama dengan pertumbuhan PDB. Apabila “diibaratkan” kue, PDB adalah besarnya kue tersebut. Pertumbuhan ekonomi sama dengan membesarnya “kue” tersebut yang pengukurannya merupakan persentase pertambahan PDB pada tahun tertentu terhadap PDB tahun sebelumnya. PDB disajikan dalam dua konsep harga, yaitu harga berlaku dan harga konstan; dan penghitungan pertumbuhan ekonomi menggunakan konsep harga konstan (constant prices) dengan tahun dasar tertentu untuk mengeliminasi faktor kenaikan harga. Saat ini BPS menggunakan tahun dasar 2000. Nilai tambah juga merupakan balas jasa faktor produksi (tenaga kerja, tanah, modal, dan entrepreneurship) yang digunakan untuk memproduksi barang dan jasa. Pertumbuhan ekonomi yang dihitung dari PDB hanya mempertimbangkan domestik, yang tidak mempedulikan kepemilikan faktor produksi.

Berikut ini data PDB dengan berbagai turunannya.
Pertumbuhan PDB Menurut Lapangan Usaha (Tahun 2007–Semester I 2011)
Ekonomi Indonesia selama tahun 2007–2010 mengalami pertumbuhan masing-masing sebesar 6,3 % (2007), 6,0 % (2008), 4,6 % (2009) dan 6,1 % (2010) dibanding tahun sebelumnya. Sementara pada semester I tahun 2011 bila dibandingkan dengan semester II tahun 2010 tumbuh sebesar 2,2 % dan bila dibandingkan dengan semester I tahun 2010 (y-on-y) tumbuh sebesar 6,5 %.

Angka-angka tersebut diperoleh dari penerapan rumus di samping  ke dalam besaran PDB tahun 2006-2009 serta semester I tahun 2010 atas dasar harga konstan 2000.



Struktur PDB Menurut Lapangan Usaha (Tahun 2007–Semester I 2011)
Distribusi PDB menurut sektor atau lapangan usaha atas dasar harga berlaku menunjukkan peran sektor-sektor ekonomi pada tahun tersebut. Tiga sektor utama: sektor pertanian, industri-pengolahan, dan perdagangan, hotel, dan restoran mempunyai peran lebih dari separuh dari total perekonomian yaitu sebesar 55,8 % pada tahun 2007, 56,3 % (2008), 54,9 % (2009) dan 53,9 % (2010) serta 53,4 % pada semester I tahun 2011. Pada tahun 2010 sektor industri-pengolahan memberi kontribusi terhadap total perekonomian sebesar 24,8 %, sektor pertanian 15,3 %, dan sektor perdagangan-hotel-restoran 10,3 %; sama halnya pada semester I tahun 2011 komposisi ini tidak berubah yaitu sektor industri pengolahan sebesar 24,2 %, sektor pertanian 15,5 %, dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran 10,1 %

Pertumbuhan PDB Menurut Penggunaan (Tahun 2007–Semester I 2011)
Pertumbuhan ekonomi Indonesia, dari sisi pengeluaran, pada tahun 2007 hingga semester 1 tahun 2011 selalu menunjukkan pertumbuhan positif kecuali ekspor dan impor barang dan jasa yang mengalami pertumbuhan yang negatif pada tahun 2009. Pada tahun 2010, konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 4,6 %, konsumsi pemerintah sebesar 0,3 %, pembentukan modal tetap bruto sebesar 8,5 %, ekspor barang dan jasa sebesar 14,9 % dan impor barang dan jasa sebesar 17,3 %. Pertumbuhan ekonomi sampai dengan semester I tahun 2011 juga menunjukkan peningkatan. Pertumbuhan ekonomi semester I tahun
2011 terhadap semester I tahun 2010 (y-on-y) meningkat sebesar 6,5 %. Peningkatan tertinggi terjadi pada komponen pembentukan modal masing-masing sebesar 15,8 %, 14,9 %, dan 8,3 %. Sumber pertumbuhan terbesar semester I tahun 2011 dibandingkan dengan semester I 2010 berasal komponen ekspor barang dan jasa sebesar 6,6 %

Struktur PDB Menurut Penggunaan (Tahun 2007–Semester I 2011)
Dilihat dari distribusi PDB penggunaan, konsumsi rumah tangga masih merupakan penyumbang terbesar dalam penggunaan PDB Indonesia; yaitu sebesar 63,5 % (2007), 60,6 % (2008), 58,7 % (2009) dan 56,7 % (2010) serta 54,9 % pada semester I tahun 2011. Komponen penggunaan lainnya yang cukup berperan yaitu pembentukan modal tetap bruto. Pada tahun 2007 peranan pembentukan tetap bruto sebesar 25,0 % dan meningkat lebih tinggi menjadi 32,2 % pada tahun 2010 dan 31,5 % pada semester I tahun 2011.

PDB dan Produk Nasional Bruto (PNB) Per Kapita Tahun 2007–2010.
PDB/PNB per kapita adalah PDB/PNB (atas dasar harga berlaku) dibagi dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. Selama tahun 2007–2010 PDB per kapita terus mengalami peningkatan yaitu pada tahun 2007 sebesar Rp17,4 juta (US$1.922,0), tahun 2008 sebesar Rp21,4 juta (US$2.245,2), tahun 2009 sebesar Rp23,9 juta (US$2.349,6), dan tahun 2010 sebesar Rp27,0 juta (US$3.004,9). Demikian juga, PNB per kapita juga terus meningkat selama tahun 2007–2010. PNB per kapita pada tahun 2007 sebesar Rp16,7 juta (US$1.843,1) meningkat menjadi Rp26,3 juta (US$2.920,1) pada tahun 2010.

Bagaimana dengan yang miskin?
Jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia pada September 2011 mencapai 29,89 juta orang (12,36 %), turun 0,13 juta orang (0,13 %) dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2011 yang sebesar 30,02 juta orang (12,49 %). Selama periode Maret 2011–September 2011, penduduk miskin di daerah perkotaan berkurang 0,09 juta orang (dari 11,05 juta orang pada Maret 2011 menjadi 10,95 juta orang pada September 2011), sementara di daerah perdesaan berkurang 0,04 juta orang (dari 18,97 juta orang pada Maret 2011 menjadi 18,94 juta orang pada September 2011). persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan perdesaan tidak banyak berubah selama periode ini. Penduduk miskin di daerah perkotaan pada Maret 2011 sebesar 9,23 %, menurun sedikit menjadi 9,09 % pada September 2011. Penduduk miskin di daerah perdesaan pada Maret 2011 sebesar 15,72 %, juga menurun sedikit menjadi 15,59 % pada September 2011.


Ada beberapa hal yang perlu dicermati mengapa laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak diikuti dengan penyediaan lapangan kerja, sehingga tidak mampu menyelesaikan masalah kemiskinan. Pertama, pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Indonesia belum ditopang dengan sektor-sektor yang memiliki elastisitas lapangan kerja yang tinggi. Akibatnya belum mampu menyelesaikan masalah kemiskinan. Pertumbuhan ekonomi seperti ini umumnya memberikan pemihakan pada sektor sektor tertentu sehingga mempersempit peluang berkembangnya sektor lain, yang pada akhirnya akan berakibat pada berkurangnya jenis lapangan kerja yang tersedia. Kedua, laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Indonesia masih terkonsentrasi di daerah-daerah di Jawa, mungkin sebagian Sumatera, dan beberapa kota besar lainnya, akibatnya laju pertumbuhan ekonomi ini tidak mampu mengatasi masalah kemiskinan. Padahal melalui laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi diharapkan mampu menyediakan lapangan kerja yang cukup. Dengan demikian akan berdampak pada pemberdayaan masyarakat setempat.

Pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan bisa jadi seperti kontrasnya pasar malam dan upah para pekerjanya. Paradoks tadi mencerminkan bahwa tingginya tingkat pertumbuhan ekonomi yang dialami selama ini masih bersifat semu. Padahal laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi merupakan necessary condition bagi pengurangan kemiskinan. Nampaknya terdapat syarat lainnya yang belum dipenuhi, yakni sufficient condition. Laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi harus efektif mengurangi kemiskinan.

Trus solusinya bagaimana?
-entahlah!!-



Sumber:
 APBN 1997-2011 dan Data BPS

Rabu, 04 Januari 2012

Survey Ketonggeng


Saat ini makin tak jelas yang mana, apa dan siapa ketonggeng. Ini gara-gara ia terlalu banyak disebut-sebut. Mula-mula, seperti binatang lainnya, nama ketonggeng dihafal sejak di sekolah TK. Dideklamasikan, ditulis di setiap buku, dipasang di dinding kelas, bahkan akhirnya ada mata pelajaran khusus mengenai ketonggeng. Sedemikian rupa sehingga menggeser kedudukan binatang besar seperti kambing, lembu bahkan unta. Di luar sekolah, nama ketonggeng bukan main harum dan terkenal. Tak hanya karena dipasang di spanduk atau papan poster di sepanjang jalan, tapi juga berkat namanya dikutip-kutip terus dalam pidato siapa pun. Dari pidato-pidato pekan olahraga, peresmian pabrik tas kulit ular sampai khotbah di masjid dan gereja. Tajuk rencana koran pun rajin menulis ketonggeng. Diumumkan suatu undang-undang perlindungan ketonggeng, yang pendeknya siapa saja melawan ketonggeng bakal menemui kehancurannya sendiri. Para politisi, sosiolog, anthropolog, ahli kimia, sarjana anggrek, doktor sikat gigi sampai alim ulama, tak ada yang ketinggalan menyitir ketonggeng. Ia bahkan menjadi tema drama, dilukis dan dibikin syair lagu yang manis tapi gagah. Ketonggeng menggema di seantero negeri. Meskipun ia asli desa tapi sekaMng ada Ketonggeng Masuk Desa. Ada sepakbola ketonggeng, ayam goreng ketonggeng, padi ketonggeng, alhasil apa saja manunggal dengan ketonggeng. Puncak dari kesemarakan ini hlah penobatan seorang Tuan Ketonggeng Nasional. Cuma lantas ada risiko. Menjadi kabur apakah ketonggeng itu binatang atau tumbuh-tumbuhan ataukah sejenis unsur kimh. Sebab segala sesuatu kini mengidentifikasi diri ke ketonggeng, meskipun memang belum ada RUU Perkawinan ketonggeng atau hukum zina ketonggeng. Karena itu disepakati untuk menyelenggaMkan seminar ketonggeng yang mempertemukan semua ahli. Bisa dipastikan seminar ini tidak saja ramai, tapi juga tinggi mutunya, lebih tinggi dari Gunung Calunggung. Ada sedikit keributan kecil, sebab temyata ketonggeng itu sendiri tidak diundang. Tapi dengan gampang hal itu dibereskan. Cuma yang menjadi puncak acara ialah kenyataan bahwa para ahli itu tak seorang pun yang tahu apa sesungguhnya ketonggeng.

Seminar macet. 
Diputuskan untuk terlebih dulu mengadakan survei. didahului pra-survei, pra-pra-survei dan pra-pra-pra-survei. Baru kemudian Survei, re-survei re-re-survei dan re-re-re-survei. Tapi karena pada ahli itu kesibukannya bukan main bertumpuk, maka survei itu diwakilkan, dan oleh yang mewakili diwakilkan lagi, dan lagi. Namun itu tak penting, juga tak menarik berapa biayanya. Yang mengejutkan ialah kesimpulan survei bahwa yang namanya ketonggeng ternyata tak lain dari para ahli itu sendiri. Ini komedi, tapi juga tragedi. Sebab pada hakikatnya para ahli itu bukanlah ketonggeng. Cuma karena mereka terlampau concern terhadap ketonggeng, dengan bcribu alasan, maka perlahan-lahan mereka menjadi ketonggeno. Ini persis banyak jenis makhiuk lainnya yang juga berubah jadi ketonggeng. Ada yang keketonggengannya berkembang tanpa ia niati dan sadari. Ada yang karena terpaksa karena ini itu, apa boleh buat jadi ketonggeng saja. Ada lagi yang memang punya kecenderungan, jadi dengan mudah menJadi ketonggeng. Kategori yang terakhir ialah mereka yang terang-terangan menumbuhkan bakat keketonggengan. Yakni dengan sengaja menjadi ketonggeng, mengakomodasi dan bahkan menciptakan jaringan sistem model ketonggeng, bikin program ala ketonggeng, menyebarkan 'obat' ketonggeng serta melakukan 'eksplorasi' sistematis tipe ketonggeng. Pasukan ketonggeng pun menjadi begitu kuat, yang formal maupun non-formal. Seluruh negeri dikendalikan oleh eliteelite ketonggeng. Sumber dana tersedia dan diperebutkan. Kreativitas sandiwara ketonggeng sedemikian indah dan nyaring, terutama karena dipentaskan dengan retorika yang cerdas serta lewat media komunikasi yang bermacam bentuknya: suatu sound-system yang menguasai seluruh segi akustik gedung. Yang menyedihkan, atau mungkin malah menggembirakan, ialah kepergian ketonggeng asli yang tanpa pamit. Kabarnya mereka menghilang ke hutan, tempat asal usul mereka. Lenyapnya ketonggeng ini kurang begitu diperhatikan orang. Sebab mereka kini diam-diam sibuk bertanya dalam hati: Lho, saya ini ketonggeng apa bukan ya? Sekarang makin tak jelas yang mana, apa dan siapa ketonggeng....

Selasa, 03 Januari 2012

Ibu Perpustakaan

Sudah sekian tahun -cukup lama memang- dia dalam kedudukannya yang sekarang, dan dia merasa ayem dan mantap. Dia sudah cukup puas dengan pekerjaannya, dengan staf dan seksi yang dia bina. Pekerjaan apa pun, kantor mana pun yang sejenis, tidak luput dari pelbagai permasalahan, terutama kekurangan dana. Namun di pihak lain, dia melihat berbagai rencananya dapat diterapkan juga. Ada kalanya, dengan diam-diam, hatinya dihinggapi rasa bangga. Dan pimpinannya begitu baik. Pada suatu hari atasan yang baik itu, dengan segala kemurahan hati, mengingatkannya bahwa kenaikan golongannya sudah perlu diurus. Jangan ditunda-tunda lagi. Semua persyaratan sudah mencukupi. Konduitenya begitu baik dan kemampuannya--kemampuan memimpin dan kemampuan akademis - jelas di atas rata-rata. Dua tahun yang begitu panjang dia melanjutkan studi di luar negeri, meninggalkan anak dan suami, mendapatkan gelar M.A. dalam bidang perpustakaan dari sebuah universitas yang terkemuka, lalu kembali ke Tanah Air dengan hasil yang gemilang. Dua gelar kesarjanaan, dari dalam dan luar negeri, sudah mengapit namanya. Di atas semuanya itu, memang dicintainya profesi itu. Dia pikir, bangsa yang menghargai penalaran, harus menghargai perpustakaan. Jantungnya di situ. Pada berbagai instansi di Indonesia, perpustakaan termasuk satu seksi dari para Tata Usaha. Di situlah tragedinya. Tragedi struktur organisasi. Tragedi penalaran. Kepala perpustakaan tidak berdiri sendiri, tidak dibuat sederajat dengan Tata Usaha. Ia tidak langsung di bawah pimpinan. Berbagai rapat yang penting tentang perpustakaan tidak dihadiri oleh kepala perpustakaan.

Dalam perkembangannya, seksi perpustakaan menjadi tempat buangan pegawai. Kalau ada pegawai yang dianggap kurang beres, suka bertingkah, wataknya kurang beres atau otaknya kurang, terminalnya di perpustakaan itu. Semacam limbah. Sebaliknya, kalau ada sesuatu yang perlu diambil, ambil sajalah dari perpustakaan. Percaya atau tidak, ada kepala perpustakaan yang tidak tahu apa-apa tentang perpustakaan dan tidak tertarik dalam soal perpustakaan. Soalnya, ada pegawai yang perlu diberi kedudukan, maka sesudah lewat berbagai pertimbangan yang bijaksana, dyadikanlah dia kepala perpustakaan. Kesasarlah dia ke sana tetapi menjadi lebih terhormat.

Percaya atau tidak, ada perpustakaan yang cukup besar yang buku-buku koleksinya belum dikatalog. Hanya ada lemari katalog yang anggun di tengah ruangan, tanpa berisi kartu pengarang buku, kartu judul buku, apalagi kartu indeks. Begitu banyak kisah yang memilukan tentang perpustakaan di negeri ini. Kisah proses pembelian buku yang cukup rumit. Uang yang datangnya terlambat lalu perlu dibelanjakan dengan terbirit-birit. Hangus kalau lewat waktunya. Untuk menghabiskan dana yang sedikit itu, adakalanya harus dibeli buku-buku yang kurang atau tidak diperlukan. Kiriman dari luar negeri dipajaki pula, meskipun itu hadiah. Runyam. Buku-buku yang sudah dipinjam bertahun-tahun lalu tidak dikembalikan lagi. Jumlahnya tidak sedikit. Staf perpustakaan tidak berani menagih dan memperingatkannya. Nanti konduite menjadi merosot. Ada perpustakaan yang tidak mampu membalas surat-surat lantaran tidak ada dana untuk prangko. Tata Usaha miskin, lantas anaknya, seksi perpustakaan, lebih miskin lagi. Ada kisah yang tersendiri perihal perpustakaan yang banyak kehilangan kursi. Tinggal sederetan meja kesepian yang tersisa. Ceritanya, jika staf baru kekurangan kursi, diambillah kursi dari perpustakaan.

Ibu kepala perpustakaan kita ini hanya bisa mengelus dada -yang sudah agak kendor karena ironi yang dihadapinya- . Berbagai masalah tersebut dapat dia atasi berkat ketangkasannya dan juga minat atasannya yang besar terhadap perpustakaan. Apa yang bakal terjadi kalau dia naik pangkat? Kalau dia naik pangkat, naiklah eselonnya: kenaikan itu otomatis diiringi oleh berbagai fasilitas yang menggiurkan. Kebetulan ada hak atas rumah, yang akan lebih besar daripada flat yang dia tempati sekarang. Lalu ada hak atas kendaraan roda empat beserta seorang sopir yang juga bisa disuruh ini itu untuk memperlancar urusan rumah tangga. Bisa antar jemput anakanak. Pendapatan jelas bertambah. Namun, dia sudah memutuskan tidak naik pangkat. Tidak. Dia sudah merasa ayem dan mantap sebagai kepala perpustakaan saja. Naik pangkat berarti memimpin bermacam-macam seksi yang tidak dia kuasai permasalahannya. Lebih terhormat memang, dan lebih gengsi. Tapi ia terpental dari seksinya, dari bidang yang seluk-beluknya betul-betul dia kuasai. Seksi yang begitu vital bagi bangsa yang menghargai penalaran. Terpental dari pekerjaan yang dinikmatinya. Terpental dari keahliannya sendiri. Sekali lagi tidak. Tidak usah naik eselon. Hatinya tidak tergoyahkan oleh rumah, mobil dan embel-embel yang lainnya itu. Dia tidak mau terseret menjadi makhluk kesasar tapi terhormat...
Ahh,, masa iya?


-pramuditya.kurniawan-

Jumat, 23 Desember 2011

Tamu Liber-All

Pagi itu masih terasa suram, tak kunjung ku dapatkan ikhtiar untuk membangun keluarga yang baru kubentuk ini,, tiba-tiba saja aku kedatangan tamu yang sudah berada di ruang dalam rumahku. Ketika kami mulai bicara, ia sudah tahu hampir semua hal tentang pribadiku, keluargaku, seluk beluk rumahku, kebun, kolam di belakang, juga apa yang ada di bawah kakiku, bahkan ia seperti tahu persis setiap kata batinku yang tak terucapkan.
Dengarlah lisannya, “di bawah kaki kau berpijak ini terdapat barang yang amat berharga tetapi karena engkau dan para dukunmu tak mampu dan tak punya biaya untuk menggalinya sendiri, maka sebaiknya akulah yang mengerjakan, Cuma ada beberapa syarat…”
Aku menganggukkan kepala, karena memang merasa tidak mampu mengambil barang yang dia bicarakan. Kusetujui semua persyaratannya, kupikir inilah ikhtiar terbaik untuk mulai membangun keluargaku yang baru sekaligus membuktikan isi kekayaan rumahku yang sesungguhnya, perkara nanti anggota keluargaku ada yang sewot biarlah kekuasaanku yang bertindak.
Soalnya tergiur betul aku rasanya, birahiku ikutan berkilau, dan lagi aku akan memperoleh keuntungan khusus dari pekerjaan ini. Entahlah kenapa ingin kusembah tamuku yang mulia. Tapi tak usahlah begitu, aku toh punya sesembahan sendiri, cukup kiranya aku menghormati dia sekadarnya. Aku toh sudah mendapatkan kemajuan ilmu pengetahuan darinya, tentang bagaimana meningkatkan taraf hidup dan menentukan kebutuhan bagi hari depan yang lebih cerah. Lebih dari itu, lihatlah, rambutku sudah kupotong persis  seperti rambutnya, pakaianku yang dulu cukup rumit telah kubikin sama seperti pakaiannya. Dan entah bagaimana, kau pun tahu kalau aku telah bergerak dan berkelakuan sama seperti pribadi tamuku, kubangun rumahku seperti anjurannya. Hsrat dan pemikiranku hampir identik dengan kepunyaan tamuku.
Lihatlah juga bahwa ia telah berhasil menggali barang-barang berharga itu, yang ternyata mampu digunakan untuk membikin benda apa saja yang kokoh dan berdenting. Kurasa keluargaku diuntungkan meskipun hanya jadi tukang pacul dan berjaga disekitar galian. Gali menggali tadi tak mungkin dilakukan tanpa kemampuan tamuku itu berserta modal yang dibawanya.

Dia bawa pulang sebagian besarnya..
Tak apa, aku ini peramah dan penyabar. Ada satu dua anggota keluargaku yang memperingatkan agar aku lebih memperhitungkan jangka panjang untung ruginya. Aku terseanyum, karena ia hanya cengeng dan segera terdiamketika kuingatkan bahwa pendapatnya itu bisa menjauhkan keuntungan khusus dari tamuku baginya. Dia terdiam ketika kutanya, jika kupertimbangkan jangka panjang apakah kau bisa jamin bahwa keponakan yang menggantikan kita besok bakal melanjutkan? Biarlah kita hragai kesempatan ini sebab esok pagi setiap orang akan mengenang bangunan megah yang pernah ku buat.
Ada juga seorang lain bertamu ke dalam diriku dan mengatakan, “Engkau tertidur dalam bangunanmu, engkau membangun dunia yang akan jadi semu oleh kurun waktu.”
Namun siapapun tahu, kta-kata itu tolol dan sia-sia.
Kini dalam tidur abadi aku hanya mampu menyesali namun senyumku sedikit terukir saat kusaksikan para keponakanku mulai berusaha memperbaiki ketololan dan kesemuan yang telah kubangun tanpa kusadari.


-pramuditya.kurniawan-

BSA 1954 B31 350 cc 1 cyl ohv

Sepeda motor BSA diproduksi oleh Perusahaan Birmingham Small Arms. Seri BSA B31 diperkenalkan pada tahun 1945 yang merupakan model baru pertama setelah periode Perang Dunia Kedua.
Menggunakan design hampir mirip saat sebelum periode Perang Dunia Kedua, bersilinder tunggal, overhead valve, mesin empat stroke yang menggantikan mesin 348 cc (21,2 cu in).
Awalnya, sepedamotor ini memliki rangka rigid (kaku) dengan fork teleskopik bukannya fork girder yang sering digunakan pada model se[eda motor pra-perang dunia kedua.
Pertama kali yang ditawarkan dengan rangka rigid, sprightly single dengan optional rangka belakang plunger pada tahun 1949.
Sepeda motor ini dikembangkan dengan mesin sekitar 17 bhp (13 kW) dan cukup memadai untuk memberikan kecepatan tertinggi konstan sekitar 70 mph (110 km/jam).



-pramuditya.kurniawan-

Kamis, 22 Desember 2011

Stanford Report, June 14, 2005 'You've got to find what you love,' Jobs says


I am honored to be with you today at your commencement from one of the finest universities in the world. I never graduated from college. Truth be told, this is the closest I've ever gotten to a college graduation. Today I want to tell you three stories from my life. That's it. No big deal. Just three stories.
The first story is about connecting the dots.
I dropped out of Reed College after the first 6 months, but then stayed around as a drop-in for another 18 months or so before I really quit. So why did I drop out?
It started before I was born. My biological mother was a young, unwed college graduate student, and she decided to put me up for adoption. She felt very strongly that I should be adopted by college graduates, so everything was all set for me to be adopted at birth by a lawyer and his wife. Except that when I popped out they decided at the last minute that they really wanted a girl. So my parents, who were on a waiting list, got a call in the middle of the night asking: "We have an unexpected baby boy; do you want him?" They said: "Of course." My biological mother later found out that my mother had never graduated from college and that my father had never graduated from high school. She refused to sign the final adoption papers. She only relented a few months later when my parents promised that I would someday go to college.
And 17 years later I did go to college. But I naively chose a college that was almost as expensive as Stanford, and all of my working-class parents' savings were being spent on my college tuition. After six months, I couldn't see the value in it. I had no idea what I wanted to do with my life and no idea how college was going to help me figure it out. And here I was spending all of the money my parents had saved their entire life. So I decided to drop out and trust that it would all work out OK. It was pretty scary at the time, but looking back it was one of the best decisions I ever made. The minute I dropped out I could stop taking the required classes that didn't interest me, and begin dropping in on the ones that looked interesting.
It wasn't all romantic. I didn't have a dorm room, so I slept on the floor in friends' rooms, I returned coke bottles for the 5¢ deposits to buy food with, and I would walk the 7 miles across town every Sunday night to get one good meal a week at the Hare Krishna temple. I loved it. And much of what I stumbled into by following my curiosity and intuition turned out to be priceless later on. Let me give you one example:
Reed College at that time offered perhaps the best calligraphy instruction in the country. Throughout the campus every poster, every label on every drawer, was beautifully hand calligraphed. Because I had dropped out and didn't have to take the normal classes, I decided to take a calligraphy class to learn how to do this. I learned about serif and san serif typefaces, about varying the amount of space between different letter combinations, about what makes great typography great. It was beautiful, historical, artistically subtle in a way that science can't capture, and I found it fascinating.
None of this had even a hope of any practical application in my life. But ten years later, when we were designing the first Macintosh computer, it all came back to me. And we designed it all into the Mac. It was the first computer with beautiful typography. If I had never dropped in on that single course in college, the Mac would have never had multiple typefaces or proportionally spaced fonts. And since Windows just copied the Mac, it's likely that no personal computer would have them. If I had never dropped out, I would have never dropped in on this calligraphy class, and personal computers might not have the wonderful typography that they do. Of course it was impossible to connect the dots looking forward when I was in college. But it was very, very clear looking backwards ten years later.
Again, you can't connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future. You have to trust in something — your gut, destiny, life, karma, whatever. This approach has never let me down, and it has made all the difference in my life.
My second story is about love and loss.
I was lucky — I found what I loved to do early in life. Woz and I started Apple in my parents garage when I was 20. We worked hard, and in 10 years Apple had grown from just the two of us in a garage into a $2 billion company with over 4000 employees. We had just released our finest creation — the Macintosh — a year earlier, and I had just turned 30. And then I got fired. How can you get fired from a company you started? Well, as Apple grew we hired someone who I thought was very talented to run the company with me, and for the first year or so things went well. But then our visions of the future began to diverge and eventually we had a falling out. When we did, our Board of Directors sided with him. So at 30 I was out. And very publicly out. What had been the focus of my entire adult life was gone, and it was devastating.
I really didn't know what to do for a few months. I felt that I had let the previous generation of entrepreneurs down - that I had dropped the baton as it was being passed to me. I met with David Packard and Bob Noyce and tried to apologize for screwing up so badly. I was a very public failure, and I even thought about running away from the valley. But something slowly began to dawn on me — I still loved what I did. The turn of events at Apple had not changed that one bit. I had been rejected, but I was still in love. And so I decided to start over.
I didn't see it then, but it turned out that getting fired from Apple was the best thing that could have ever happened to me. The heaviness of being successful was replaced by the lightness of being a beginner again, less sure about everything. It freed me to enter one of the most creative periods of my life.
During the next five years, I started a company named NeXT, another company named Pixar, and fell in love with an amazing woman who would become my wife. Pixar went on to create the worlds first computer animated feature film, Toy Story, and is now the most successful animation studio in the world. In a remarkable turn of events, Apple bought NeXT, I returned to Apple, and the technology we developed at NeXT is at the heart of Apple's current renaissance. And Laurene and I have a wonderful family together.
I'm pretty sure none of this would have happened if I hadn't been fired from Apple. It was awful tasting medicine, but I guess the patient needed it. Sometimes life hits you in the head with a brick. Don't lose faith. I'm convinced that the only thing that kept me going was that I loved what I did. You've got to find what you love. And that is as true for your work as it is for your lovers. Your work is going to fill a large part of your life, and the only way to be truly satisfied is to do what you believe is great work. And the only way to do great work is to love what you do. If you haven't found it yet, keep looking. Don't settle. As with all matters of the heart, you'll know when you find it. And, like any great relationship, it just gets better and better as the years roll on. So keep looking until you find it. Don't settle.
My third story is about death.
When I was 17, I read a quote that went something like: "If you live each day as if it was your last, someday you'll most certainly be right." It made an impression on me, and since then, for the past 33 years, I have looked in the mirror every morning and asked myself: "If today were the last day of my life, would I want to do what I am about to do today?" And whenever the answer has been "No" for too many days in a row, I know I need to change something.
Remembering that I'll be dead soon is the most important tool I've ever encountered to help me make the big choices in life. Because almost everything — all external expectations, all pride, all fear of embarrassment or failure - these things just fall away in the face of death, leaving only what is truly important. Remembering that you are going to die is the best way I know to avoid the trap of thinking you have something to lose. You are already naked. There is no reason not to follow your heart.
About a year ago I was diagnosed with cancer. I had a scan at 7:30 in the morning, and it clearly showed a tumor on my pancreas. I didn't even know what a pancreas was. The doctors told me this was almost certainly a type of cancer that is incurable, and that I should expect to live no longer than three to six months. My doctor advised me to go home and get my affairs in order, which is doctor's code for prepare to die. It means to try to tell your kids everything you thought you'd have the next 10 years to tell them in just a few months. It means to make sure everything is buttoned up so that it will be as easy as possible for your family. It means to say your goodbyes.
I lived with that diagnosis all day. Later that evening I had a biopsy, where they stuck an endoscope down my throat, through my stomach and into my intestines, put a needle into my pancreas and got a few cells from the tumor. I was sedated, but my wife, who was there, told me that when they viewed the cells under a microscope the doctors started crying because it turned out to be a very rare form of pancreatic cancer that is curable with surgery. I had the surgery and I'm fine now.
This was the closest I've been to facing death, and I hope it's the closest I get for a few more decades. Having lived through it, I can now say this to you with a bit more certainty than when death was a useful but purely intellectual concept:
No one wants to die. Even people who want to go to heaven don't want to die to get there. And yet death is the destination we all share. No one has ever escaped it. And that is as it should be, because Death is very likely the single best invention of Life. It is Life's change agent. It clears out the old to make way for the new. Right now the new is you, but someday not too long from now, you will gradually become the old and be cleared away. Sorry to be so dramatic, but it is quite true.
Your time is limited, so don't waste it living someone else's life. Don't be trapped by dogma — which is living with the results of other people's thinking. Don't let the noise of others' opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition. They somehow already know what you truly want to become. Everything else is secondary.
When I was young, there was an amazing publication called The Whole Earth Catalog, which was one of the bibles of my generation. It was created by a fellow named Stewart Brand not far from here in Menlo Park, and he brought it to life with his poetic touch. This was in the late 1960's, before personal computers and desktop publishing, so it was all made with typewriters, scissors, and polaroid cameras. It was sort of like Google in paperback form, 35 years before Google came along: it was idealistic, and overflowing with neat tools and great notions.
Stewart and his team put out several issues of The Whole Earth Catalog, and then when it had run its course, they put out a final issue. It was the mid-1970s, and I was your age. On the back cover of their final issue was a photograph of an early morning country road, the kind you might find yourself hitchhiking on if you were so adventurous. Beneath it were the words: "Stay Hungry. Stay Foolish." It was their farewell message as they signed off. Stay Hungry. Stay Foolish. And I have always wished that for myself. And now, as you graduate to begin anew, I wish that for you.
Stay Hungry. Stay Foolish.
Thank you all very much.