Kamis, 22 Desember 2011

Daniel Uneputty, Elite Angels Keturunan Indonesia


Dia adalah presiden Hells Angels Chapter Amsterdam, Belanda. Sosok Daniel menjadi menarik karena dia merupakan keturunan Maluku sekaligus salah satu dari segelintirAngels non kulit putih, bahkan bisa masuk menjadi jajaran elitenya. Ya, Hells Angelsterkenal sangat rasis untuk urusan warna kulit sebagai salah satu syarat menjadi seorang Angels. Mungkin itulah mengapa mereka tidak membuka chapternya selain di Amerika, Australia dan Eropa. Padahal dua rival terberatnya, Bandidos MC & Outlaw MC, telah lebih dulu “menginvansi” Asia. Khusus untuk Bandidos, tahun 2011 ini, telah membuka chapternya di Indonesia.

foto: daylife.com
Foto di atas adalah momen ketika Daniel disambut gembira oleh para Angels (20/12/2007), setelah tuntutan jaksa penuntut umum terhadapnya yang menyatakan bahwa Hells Angels merupakan sebuah organisasi kejahatan ditolak oleh pengadilan Amsterdam. JPU akhirnya menyerukan banding ke pengadilan tinggi.
Daniel dilantik menjadi presiden Chapter sejak 21 September 2004 menggantikan Willem van Boxtel aka Big William. Menurut dugaan, William yang merupakan presiden sebelumnya sekaligus pendiri tersebut dikeluarkan dari klub setelah menerima tawaran kontrak untuk membunuh kelompok kriminal besar yang menjadi partner bisnis perdagangan narkotika dengan Hells Angels. Kisah kasusnya bisa dibaca disini.

foto: examiner.com
Update:
Hells Angels kini mulai mecoba untuk membuka chapternya di Asia, salah satunya dengan menerima salah satu MC dari Jepang menjadi Hangaround-nya.




-pramuditya.kurniawan-

Sexology


Hidup sebagai anak kos ternyata ada efek positifnya juga, niat ingin menjadi anak mandiri terkadang malah membuat kita makin bergeser dari nilai. Pembimbing kita adalah mesin otak yang diusahakan menjadi lokomotif paling cerdas, serba tegar dan menguasai, tetapi masinis kita merupakan semangat seks. Hati menjelma sebagai gerbong paling belakang. Kita semakin akrab dengan film porno yang diumbar bebas. Sejenak kita seperti kepompong menjijikkan namun jika berhasil bermetamorfosis menjadi kupu-kupu indah itulah yang dimaksud efek positif hidup sebagai anak kos.

Suatu ketika saya dibikin pusing oleh suatu hal, sebagai penikmat setia blue film, kolektor gambar wanita bugil yang kadang diselingi dengan aktivitas swalayan pernah membuat saya mencapai titik jenuh terendah. Setelah berkonsultasi dengan sesepuh yang memilki segudang pengalaman pahit maka saya pun di sarankan untuk bertemu dengan seks. Ya, seks itu sendiri. Bukan seorang lelaki bukan pula wanita. Kalau bertemu Pimpinan BEM Seluruh Indonesia, jelas birokrasinya, meskipun harus ditempuh sembilan jam naik kereta gerobak ke Kota Pelajar.

Tapi bertemu seks??



Berminggu-minggu saya mencarinya, hanya lelah terhadap literatur yang didapat. Seks itu ciptaan Tuhan. Sudah pasti. Tapi apakah untuk mengetahui seks, saya mesti belajar filosofi seks? Saya tidak mau semakin pusing oleh filsafat seks. Manusia yang melakukan seks hanya demi dan untuk kepuasan hewaninya belaka adalah pengertian dari lethal sex, hanya itu yang saya tahu.

Saya langsung saja ke Sunan Kuning, salah satu bursa seks di kota Semarang. Namun, ketika saya tanya tentang seks, pelacur itu menjawab, Wah, saya tidak tahu Mas. Di sini saya cuma cari makan. Para customer lelaki pun menjawab secara kurang memuaskan, Saya belum pernah ketemu dengan seks, Mas. Saya mencarinya terus dengan cara bersenggama di sini hampir tiap hari. Saya hanya ketemu sama orgasme. Hanya ekstase. Kalau saya sudah ketemu seks, untuk apa terus-terusan begini?
Kemudian saya silaturahmi ke wisma skandal, di mana para pegawai pria dan wanita berseragam suka menyewa kamar satu atau dua jam. Saya juga memperoleh jawaban yang mengecewakan, Gini lho Mas. Kalau saya sedang sendiri, Saya sangat tergoda oleh seks. Tapi kalau sudah berdua atau berempat di kamar, paling jauh yang saya temui hanya diri
kami sendiri yang berubah menjadi kuda, sapi, beruang, atau monyet yang bergumul telanjang.
Selebihnya, perasaan berdosa yang kami simpan diam-diam.




Akhirnya saya pulang dengan putus asa. Saya katakan pada sesepuh, Jawaban mereka sangat konyol. Mereka bersenggama tapi ngaku tidak tahu seks. Lha apa beda bersenggama dengan seks?
Lho , sangat beda, kata sesepuh saya. Bersenggama itu sekedar alat atau tarekat mencari dan menemukan seks. Seks itu tinggi derajatnya dan derajat kesucian seks tidak mungkin kamu temui di tempat pelacuran.

Masih ruwet!! kata saya.

Karena kamu sukanya bersenggama, jadi salah paham tentang seks. Menyamakan persenggamaan dengan seks seperti menyamakan nasi dengan rasa kenyang. Kalau kamu sudah sampai pada kenyang, nasi tak terlalu diperlukan. Kalau kamu sudah bersemayam di dalam seks, persenggamaan tak terlalu dibutuhkan.

Kalau begitu, kata saya jengkel, biarlah saya tak pernah tiba pada seks !!!


-pramuditya.kurniawan-

CENTURY - wacana pribadi

--> Saat Menkeu mendampingi Presiden di LN rapat G-20 bulan November 2008, apakah Menkeu diinstruksikan scara khusus oleh Presiden untuk menyelamatkan Century?
tanggal 13-15 November, Menkeu mmg mendampingi Presiden di G-20 Washington DC. trus tgl 13 November 2008, via teleconf BI ksi info ke Menkeu (yg lg di Washington DC) ttg kondisi BC. and then, tgl 14 Nov 2008, Menkeu lapor lisan ke Presiden ttg keterkaitan kondisi ketidakstabilan prekonomian global dg sistem keuangan nasional (weleh,, weleh,,bahasane). trs jg lapor ttg kondisi Century sm spt yg dilaporin BI. bdsr instruksi Presiden, Menkeu balik ke Indonesia tgl 15Nov08 yg seharusnya MenKeu masih brsma Presiden dlm acra APEC tgk 22– 23 Nov08. jadi,, tujuan MenKeu balik ke Indonesia lebih awal dri jadwal yg seharusnya adlh untuk ambil kebijakan yg diperlukan agar stabilitas sistem keuangan tetap trjaga, BUKAN untuk menyelamatkan Bank Century.

--> Rekayasa peraturan utk menyelamatkan century??
Century ditetapkan sbg -Bank Gagal berdampak sistemik- brdsr Perppu JPSK. JPSK mrpkan suatu mekanisme koord antara otoritas trkait dlm mnjaga stabilitas sistem keuangan (uda byk contohnya di negara lain, jd ni g asal bikin). UU 3 /2004 ttg Perubahan atas UU 23/1999 ttg BI blg agar UU JPSK diselesaikan paling telat akhir 2004. sbg follow up dr hal tsb, Pemerintah nyiapin RUU JPSK sjak awal 2004 'n lebih intens sejak Juli 2007. nah tyt, pada akhir 2007 tjd -krisis keuangan global- krisis ini nyata terjadi walaupun dampaknya di Indonesia g trllu terasa ato kita yg pura2 cuek??. Utk antisipasi ancaman krisis keuangan global, Pemerintah netapin Perppu JPSK, Perppu Perubahan UU BI, 'n Perpu Perubahan UU LPS pd Okt08

-->Rapat KSSK 20&21 Nov08, knp MenKeu ngubah pendapat dr yg awalnya mengkritisi argumen BI klo Century tidak berdampak sistemik malah jd stuju klo Century pny dmpak sistemik pda rapat pengambilan keputusan KSSK. (buat yg belum paham, malem itu ada 2 rapat, yg prtma brainstorming dg berbgai narasumber tmsuk org2 BI, depkeu. dll and rpat kedua ttg pengambilan kputusan). Apa benar ada instruksi Presiden via telp wkt itu? (sereem...)
Sjak Forum Stabilitas Sistem Keuangan (FSSK) efektip pd tgh taun 2007, Menkeu scara reguler dpt update ttg perkembangan krisis keuangan dunia dan nasional. Selain itu, MK jg aktif ikut diskusi-diskusi internasional ttg penanganan krisis keuangan global. Utk meyakinkan hasil analisa BI -krna mmg g manteb- ttg Century krn g tersedianya data individual perbankan di Depkeu dan yg pny data komplit mmg BI, saat rapat KSSK MK mempersilahkan para pejabat Depkeu, BI, LPS, Bank Mandiri+pak marsilam (sbg narasumber yg kebetulan mmg mnjbat ketua UKP3R utk mengajukan prtanyaan 'n pendapat, be4 KSSK ambil keputusan. brainstorming cuy,, btpa terbukanya MK :) dlm rapat tsb, tjd pembahasan yg intens 'n krna yg dtg mmg para pakar ekonomi dan perbankan. Bbrpa peserta rapat ngajuin pertanyaan yg kritis 'n respons atas hasil analisis BI. wajar lah,, mnrut ane proses ini transparan 'n sehat buat bantu KSSK ambil keputusan. trus dg pertimbangan hal-hal td & kondisi sistem keuangan saat itu, MK setuju klo Century adlh Bank Gagal yg pnya dampak sistemik. Keputusan KSSK diambil TANPA intervensi dari pihak manapun. 

-->ada jg yg blg klo penanganan Century oleh LPS after 18 Des08 g punyai dasar hukum?
Penetapan century sbg Bank Gagal berdampak Sistemik dilakukan KSSK tgl 21 Nov08 bdsr Perppu JPSK. trus, sejak 21 Nov08, pelaksanaan penanganan Century dihandle LPS berdasar UU 24/04 ttg LPS yg uda diubah dg UU 7/09 (msi UU LPS jg). Berdasar surat Ketua DPR No: LG.01.02/9319/DPR RI/XII/2008 tgl 24 Des08 ttg penyampaian keputusan rapat Paripurna DPR RI tgl 18 Des08, DPR sepakat agr Pemerintah sgra ngajuin RUU ttg JPSK paling telat tgl 19 Jan09. ada beda persepsi antara Pemerintah dg sebagian anggota DPR ato DPRnya yg plinplan ttg pemberlakuan Perppu JPSK sjk tgl 18 Des08. ttg hal tu td, rapat paripurna DPR RI pembahasan RUU JPSK tgl 30 Sept09, DPR menyatakan MENOLAK Perppu JPSK. Pengambilan keputusan oleh KSSK wkt penanganan Century bdsar Perppu JPSK cm dilakukan pd tgl 21 Nov08. Bdasar hal tsb, pelaksanaan penanganan Century stlh tgl 18 Des08, tmsuk PMS -penambahan modal sementara- sbsar Rp1,155 triliun pd tgl 3 Feb09 'n sbsar Rp630 miliar pd tgl 21 Juli09, TETAP DILAKUKAN BERDASARKAN UU LPS (tidak terkait dengan penolakan Perppu JPSK). 

-->PMS LPS buat Century adlah dana talangan dari APBN via Fasilitas Pembiayaan Darurat (FPD)?
utk menjalankan fungsi menjamin simpanan nasabah dan melakukan penanganan bank gagal, LPS mungut premi dri semua bank yg beroperasi di Indonesia dan masuk dlm programnya LPS. LPS telah menghimpun dana premi sekitar Rp12,9 triliun. Dg penerimaan premi td, ditambah dg modal awal Rp 4 triliun,'n hasil investasi setelah dikurangi biaya-biaya, sampai akhir Sept09 total kekayaan LPS mencapai Rp18 triliun. Jadi sumber pendanaan penanganan Bank Century yg seluruhnya Rp6,762 triliun, berasal dari kekayaan LPS, 'n belum menyentuh modal awal LPS. Seluruh biaya penanganan tersebut adalah PMS LPS pd Century, dan BUKAN DANA TALANGAN LPS ato Pemerintah. dg PMS td, 99,996% saham Century dimiliki LPS. Selama dalam penanganan gawat darurat, Century g prnah trima pemberian Fasilitas Pembiayaan Darurat (FPD) dmn dana FPD mmg hrs brsumber dari APBN.Karena sumber pendanaan penanganan Century berasal dari kekayaan LPS (bukan dari APBN), 'n LPS mmg pnya wewenang utk melakukan pengelolaan kekayaan sendiri, maka penetapan biaya penanganan Century TIDAK PERLU memperoleh APROVAL KSSK ataupun DPR. jdi bgi para anggota Dewan yg terhormat harap dipelajari dan dipahami peraturan terkait dg baik,, Got it??!

-->dana PMS dipake untuk bayar nasabah besar saja, trus yg nasabah kecil G dibayar?
laporan Direksi Century kpd LPS blg klo dana nasabah terbesar masi ada di Century. Kalaupun ada pencairan, tu wajar aja krna dilakukan utk keperluan bisnis nasabah yg bersangkutan, ms pnya duit di bank g boleh ditarik.. dr total PMS LPS Rp6,76 triliun, 60% nya ato Rp4,02 triliun dipake buat bayar Dana Pihak Ketiga, 33% Rp2,25 triliun ditaruh sbg aset(SBI/FASBI/SUN/GWM giro wajib minimum),'n sisa sbesar 7% dipake antara lain buat nglunasi FPJP n pinjaman antar bank. Dari total 8.577 nasabah yang mencairkan simpanannya sbsar Rp4,02 triliun, sbyak 8.249 nasabah (96,2%) diantaranya adlh nasabah yg pnya simpanan sampai dg Rp2 miliar dg total simpanan Rp2,19 triliun. trus nasabah tajir yg nyairin simpenannya lebih dari Rp2 miliar ada 328 nasabah (3,8%) dg total simpanan Rp1,83 triliun 

-->Century uda bayar dana simpanan nasabahnya yg sah. Nasabah yang selama ini menuntut pengembalian dana dari Bank Century sebenarnya bukan lagi sebagai nasabah Bank Century krna dana simpanan mereka telah diinvestasikan ke dlam produk investasi Discretionary Fund,, jd mrka tu sp?
Century jg terkait dg penawaran produk investasi yg direkayasa Robert Tantular dg nyamar sbg PT Antaboga Delta Sekuritas (ADS) penerbit dri produk investasi yg disebut Discretionary Fund. ADS td punyanya si RT. Produk investasi Discretionary Fund td g terdaftar 'n g dikenal di Bapepam-LK. jd tu produk ilegal hasil rekayasa RT dkk. Total dana nasabah yg ketipu gara2 si RT sekitar Rp1,4 triliun. Berkas perkara pidana udah diserahin ke Bareskrim POLRI. Nasabah yg kena tipu td uda nyairin simpenannya di Century buat beli produk ilegal td. Jadi klo org yg paham hukum bakal komen Secara hukum mereka bukan nasabah Bank Century lagi. pengembalian dana milik nasabah yg kena tipu td y bukan tanggungjawabnya Century. 

Pengertian Dampak Sistemik
Sistemik diambil dari kata sistem. Kerusakan sistemik berarti kerusakan menyeluruh pada sistem yang ada. Beberapa literatur mendefinisikan dampak sistemik, antara lain dari Bank for International Settlements (BIS) mendefinisikan :
“the risk that the failure of a participant to meet its contractual obligations may in turn cause other participants to default with a chain reaction leading to broader financial difficulties.”
European Central Bank (ECB) mendefinisikan :
“…wide systematic shocks which by themselves adversely affect many institutions or markets at the same time. In this sense, systemic risk goes much beyond the vulnerability of single banks to runs in a fractional reserve system.”
Mengacu pada definisi Perppu JPSK, yang dimaksud berdampak sistemik adalah:
“suatu kondisi sulit yang ditimbulkan oleh suatu Bank, Lembaga Keuangan Bukan Bank, dan/atau gejolak pasar keuangan yang apabila tidak diatasi dapat menyebabkan kegagalan sejumlah Bank dan/atau Lembaga Keuangan Bukan Bank lain sehingga menyebabkan hilangnya kepercayaan terhadap sistem keuangan dan perekonomian nasional.”

Indikator Bank Berdampak Sistemik
Kriteria suatu bank dapat dikategorikan berdampak sistemik tidak dinyatakan secara eksplisit dalam Undang-undang. Tidak dinyatakan kriteria ini secara eksplisit disebabkan 2 alasan utama yaitu :
1. Berpotensi menimbulkan moral hazard
Memanfaatkan celah hukum dan keadaan demi keuntungan pribadi dan pihak lain merupakan perilaku yang sering di dunia bisnis apabila tidak diatur dan kelola sebaik-baiknya. Keterbukaan kebijakan sangat penting tetapi keterbukaan yang berlihan bagaimanapun juga dapat berbahaya. Bagi seseorang yang merasa terdesak akibat kegiatan usaha yang tidak menguntungkan bukanlah sesuatu yang mustahil bagi mereka untuk melakukan tindakan-tindakan yang nekad untuk memanfaat semua keadaan demi keselematan usahanya atau ke luar dari bisnisnya dengan cara-cara yang kurang wajar dan merugikan pihak lain.

Demikian halnya dengan di dunia perbankan, Jika semua bank tahu tentang kriteria berdampak sistemik, dikhawatirkan bank-bank itu akan dengan sengaja mengkondisikan diri masuk ke kriteria “berdampak sistemik” agar bisa minta bantuan pemerintah. Hal ini dapat mendorong manajemen bank tidak berhati-hati (prudent) dalam menjalankan kegiatan bisnisnya. Ini adalah bentuk dari moral hazard.

2. Pengukuran Dampak Sistemik Bersifat Situasional 
Dampak sistemik bisa diakibatkan banyak hal, internal maupun eksternal. Hal internal adalah masalah di dalam lembaga bank itu sendiri. Sedangkan eksternal bisa berupa bencana alam, krisis keuangan global maupun serangan teroris. Ini menyebabkan dampak sistemik sulit ditentukan batasannya. Suatu lembaga keuangan dapat dinyatakan berdampak sistemik pada situasi tertentu, namun tidak berdampak sistemik pada situasi berbeda. Perlu professional judgement untuk memutuskan hal tersebut. 

Namun, dalam melakukan penilaian dampak sistemik, Bank Indonesia mencoba mengadaptasi sistem penilaian berdasarkan framework MoU Uni Eropa. Framework tersebut melakukan penilaian dampak sistemik dari aspek sistem aspek sistem keuangan, pasar keuangan, sistem pembayaran dan sektor riil.
Selain aspek di atas, Bank Indonesia juga menambahkan satu aspek lagi yaitu aspek psikologi pasar. Penambahan aspek psikologi pasar ini ditambahkan karena merujuk pengalaman Indonesia pada krisis 1997-1998 lalu sehingga perlu dimasukkan untuk mencegah krisis serupa terulang. Pada masa itu, penutupan 16 bank yang hanya menguasai 2,3% dari total aset perbankan berdampak psikologis negatif bagi pasar keuangan. Ini berujung pada penarikan besar-besaran dana nasabah di bank-bank lain sehingga mengakibatkan krisis perbankan dan merambah pada krisis keuangan dan sektor lainnya.

- ,Rapat KSSK VS Sidang Pansus. - 

Rapat Marathon 2 hari dengan menyertakan semua pihak professional yang terkait tanpa minta anggaran bermilyar-milyar rupiah itu menghasilkan stabilitas perekonomian Indonesia, bahkan berada di peringkat ketiga Dunia dalam hal pertumbuhan ekonomi + cadangan devisa hingga USD 60 miliar dan ...Realisasi penerimaan APBN hingga ±Rp 1.000 Triliun.

Rapat Pansus ±2 bulan + menghabiskan dana 2,7 Miliar + bantuan ahli (mulai yang asli sampai abal2) + tontonan perdebatan2 konyol itu hanya menghasilkan definisi krisis + sistemik + rekomendasi nonaktif/pemakzulan para mantan pejabat KSSK.

* Pertanyaan : Dalam sistem manajerial, jika dilihat dari sisi efektifitas dan efisiensi serta reward dan punishment, yang perlu diberi cap ineffectif + inefficient + perlu diberi punishment yang mana ?! (terlalu sadis ?! lebih sadis mana mengingat duit 2,7 miliar itu pada dasarnya adalah hasil prestasi salah satu pejabat KSSK, ibaratnya seseorang dimintain duit buat menyelidiki dirinya..) What the heLL
==============================================================

- Pejabat KSSK melakukan rapat marathon sepanjang 21 – 22 Nov 08 adalah untuk menyelamatkan perekonomian dari ancaman krisis.

- Pansus Kontra BailOut menganggap rapat marathon sepanjang 21 – 22 Nov 08 adalah untuk merundingkan perbuatan korupsi.

* Jika ada indikasi suatu rapat para maling yang dilakukan berjam2 dengan melibatkan begitu banyak pihak terkait ditambah ada bukti rekaman sepanjang rapat, maling yang bodoh atau yang menuduhnya yang oon ?!

==============================================================

Rp 6,762 Triliun dana LPS untuk menyelamatkan industri perbankan di Indonesia.
- Dua praktisi perbankan yang dipanggil pansus ; Bpk. Fauzi Ichsan sebagai ahli dan Robert Tantular sebagai saksi + tersangka utama. Bpk. Fauzi Ichsan bilang Nov 2008 itu krisis sedangkan Robert Tantular menyatakan 2008 tidak ada krisis.

- Perbanas, Himbara dan himpunan Bank lainnya tidak dipanggil pansus, padahal merekalah yang paling merasakan 2008 itu sektor perbankan sedang terancam krisis atau tidak.

* Pertanyaan : WAJARKAH jika, mayoritas anggota pansus lebih mempercayai pernyataan Robert Tantular (saksi sekaligus pelaku utama perampokan yang telah merugikan Negara Rp 9,.. Triliun) daripada perkataan Bpk. Fauzi Ichsan + Perbanas + Himbara bahkan Bpk. Budi Rochadi dari BI sekalipun ?! “mereka” itu berdiri di sisi mana ?!

==============================================================

Kompetensi Peserta Rapat KSSK lainnya.
- Sedikit OOT tapi perlu. Silahkan googling dan cari tau kapasitas Beliau2 ini : Bpk. Marsilam Simanjuntak, Bpk. Darmin Nasution, Bpk. Raden Pardede, Bpk. Agus Martowardoyo dll sebagai peserta rapat KSSK, atau Ibu Aviliani, Bpk Faisal Basri, Bpk. Fauzi Ichsan sebagai ahli yang setuju dengan kebijakan BOBC itu sudah tepat, atau Bpk. Erry Riyana Hardjapamekas, Bpk. Sofyan Djalil, Bpk. Anies Baswedan dll sebagai tokoh yang setuju bahwa kebijakan BailOut itu sudah tepat.

- Bahkan Bpk. Maryono yang dipercaya untuk menangani Bank Mutiara itu mendapat julukan “Bpk. Bencana dan Krisis” karena kredibilitasnya dalam menangani bank-bank yang kena krisis atau recoveri Bank di Aceh pasca gempa. Diharapkan di tangan Bpk. Maryono ini Bank Mutiara akan cepat pulih dan bisa memaksimalkan recoveri dana BOBC 3 – 5 tahun ke depan.

* Pertanyaan : kredibilitas beliau2 itu memang bukan legitimasi bahwa BOBC itu 100% clean, harap diingat personel BC lama tetap masih ada meski tidak berada di pucuk pimpinan Bank Mutiara. Tapi apakah kredibilitas Beliau2 itu layak jika dibandingkan dengan pertanyaan-pertanyaan konyol sebagian anggota pansus (yang sebagian besar bukan berlatar belakang ekonomi) ?! atau ingat ini, bagi Beliau2 di atas itu rasanya sangat mudah jika mereka ingin menjadi anggota DPR seperti AF, BS, FH, AR, MS, GL dll, tapi sebaliknya, jika sebagian anggota pansus itu ingin menjadi seperti Beliau2 tersebut di atas, apa mampu ?!

==============================================================

Benarkah Kapasitas “Mereka” Setinggi Itu ?!
- Meminjam analogi Bapak Faisal Basri (kurang lebih) : “Jangan sampai di kemudian hari terjadi seperti ini : seseorang mendapat beasiswa dari Negara, kemudian ketika naik bis dia kecopetan, lalu si copet dikenakan pasal berlapis dan salah satunya adalah merugikan keuangan Negara”.

- Ingat bahwa tanggungjawab Pak Boediono (Gub. BI) adalah menjaga stabilitas moneter Indonesia waktu itu, sementara Ibu Sri Mulyani adalah Menteri Keuangan dan Plt. Meko Perekonomian yang super sibuk menyelamatkan krisis. Bahkan Bpk. Maryono pun mempunyai wewenang dan tanggungjawab Bank Mutiara SECARA KESELURUHAN, sementara di cabang-cabang Bank Mutiara adalah orang lama Bank Century.

* Pertanyaan : JIKA memang ada kebocoran di salah satu cabang Bank Century –Padahal SUDAH DIBLOKIR - (sebut saja MISAL – Bali -), apakah ketiga orang itu lantas dianggap bekerja sama memberi kesempatan pencuri ?! Apakah karena Beliau2 memutuskan untuk BOBC lantas ketigana harus MENGIKUTI KEMANAPUN NASABAH BANK MUTIARA pergi untuk memastikan 100% tidak ada kebocoran ?! tuntutan yang sangat naif.

Pertanyaan dibalik : atas “tragedi” terpanggilnya ahli abal-abal (Bpk. Ichsanuddin Noorsy) yang tentunya menerima honor atas kesaksiannya itu, ketika kesahihan sang Ahli menimbulkan keraguan, atas mengalirnya uang Negara ke tangan yang tidak berhak itu, penanggungjawabnya siapa ?!

==============================================================

Do the Things Right VS Do the Right Things.
- Sangat mungkin terjadi suatu tindak kejahatan tanpa adanya kesalahan, jika dilaksanakan dengan benar. Sebuah kejahatan mungkin tidak akan pernah terungkap karena terbungkus oleh pembenaran. Jika begini kejadiannya, maka hasilnya akan jatuh korban tanpa ada pelaku yang dikenai hukuman.

- Sebaliknya sangat mungkin terjadi sebuah kesalahan tanpa sama sekali adanya tindak kejahatan, karena sifat manusia itu sendiri tidak ada yang sempurna. Jika begini kejadiannya, maka hasilnya seseorang yang dituding sebagai pelaku dijatuhi hukuman sementara tidak ada seorangpun yang merasa sebagai korban.

* Pertanyaan : Apakah para pejabat KSSK dituntut seperti Malaikat yang TIDAK BOLEH MELAKUKAN KESALAHAN SEKECIL APAPUN ?! dan KALAUPUN kesalahan kecil yang tidak merugikan itu memang ada, kemudian oleh para anggota pansus dijadikan alasan untuk menghukum, lihatlah Track Record sebagian anggota + inisiator Pansus itu (FH, AR, GP, ZEM, AM & MM) apakah mereka layak dijuluki Mr. 100% clean ?

==============================================================

GOD BLESS HITLER




-pramuditya.kurniawan-

Universite J e T'aime

Siang itu matahari seolah menghujani segenap makhluk dengan racun UV yang menjalar di permukaan kulit, di dalam ruang aula, berkumpulah sekitar dua puluh kodi mahasiswa baru suatu lembaga pendidikan tinggi yang gaung nama besarnya terdengar hampir di seluruh nusantara. Studium generale yang diselenggarakan untuk mengawali tahap-tahap khusus ritual penyambutan, sebuah kuliah umum perdana yang riuh ramai berisi mahasiswa cerdas terpilih. Para remaja yang energik ini diperlakukan dengan hangat, digiring, dibariskan, dimobilisir layaknya tur keliling kampus. Perhatian mereka memusat pada keasyikan diri masing-masing dalam takaran yang saat itu hampir tidak memikirkan objektivitas terhadap suatu apapun atau barangkali memang itulah target mobilisasi sesungguhnya.

Seorang pakar motivator, yang konon juga memiliki tingkat intelegensia tinggi didatangkan,dipersilahkan duduk di atas kursi seempuk kasur dan diperkenalkan profilnya. Para remaja itu tidak memperdulikannya, seperti juga mereka bersikap cuek terhadap angin yang tak kunjung datang menyapa mereka di dalam ruang aula.

Para mahasiswa cerdas terpilih yang hadir di depanmu, tidak dengan kewajiban memahami sesuatu melainkan dengan hak untuk dipahami.

Situasi berkelompok pun terbentuk tanpa mereka sadari seperti situasi sebuah mall dengan beragam
tema hidup dan psikologi hura-hura. Mereka tidak perlu terhenti oleh formalitas studium generale atau
bahkan pembacaan ayat-ayat ilmiah.

Saya tidak akan berceramah kepada Adik-adik, sang pakar memulai penampilannya dengan pandangan
menyapu seluruh audiens di ruang aula tersebut. Ciri khas orang yang memahami ilmu publik speaking,
berusaha mendapatkan aura yang tersisa. Meskipun di siang yang menyengat ini pertemuan kita dikawal
oleh lapisan kalimat tema yang sulit dipahami. Saya mengerti kalau Adik-adik semua tak suka hal yang mulukmuluk.

Tampak sang pakar memulai rayuannya. Ia bukan saja bersiap menyesuaikan diri terhadap takaran
suhu ruangan tapi bahkan mencoba berangkat dari alam pikiran mereka. Ada kemungkinan saya makin
tidak percaya dengan fenomena ceramah. Pertama, dari hidup ini hanya sedikit saja yang bisa Adik-adik
pahami dan hayati lewat komunikasi informatif, sementara sebagian besar pemahaman hidup hanya
mungkin Adik-adik peroleh dari penghayatan di kehidupan nyata. Saya tidak akan sanggup menjelaskan
bahaya merokok meskipun dengan uraian satu desertasi doktor, sebelum Adik-adik sendiri tersiksa
karena rokok. Kedua, berceramah itu egoistik. Bagaimana mungkin Adik-adik digiring susah payah ke
ruangan ini untuk mendengarkan perkara yang mungkin tidak Adik-adik kehendaki. Bagaimana mungkin
seorang penceramah tiba-tiba berkwek-kwek tanpa tahu siapa Adik-adik ini

Tapi para mahasiswa baru itu terus saja menghanyutkan diri dalam Studium Generale yang mereka kreasikan sendiri. Sang pakar mulai heran dengan para remaja di hadapannya, tak ia temukan itikad bahwa mereka tertarik tawaran demokrasi yang menurut sang pakar- sedemikian tinggi nilai rezekinya di tengah budaya komunikasi instruksional yang makin merajalela.

"Saudara-saudara!!" sang pakar meningkatkan nadanya dan mengganti sapaannya. Saya ingin
mencoba berangkat dari aspirasi Anda, dan sangat membatasi gairah saya sendiri. Marilah kita ngobrol
sesantai mungkin
Juga tak ada yang berubah dari air muka para mahasiswa itu.

'Siapakah Anda? Murid atau murad? Murid adalah orang yang menghendaki. Murad adalah orang yang
dikehendaki. Siapa Anda siang ini di acara ini? Apakah Anda datang kesini karena menghendaki
sesuatu yang mungkin bermanfaat bagi proses kuliah Anda nanti ataukah Anda sekedar hadir karena
kehendak pihak yang mengatur Anda?"
Masih saja kosong wajah mereka.
"Tolong yang merasa murid, mengacungkan tangan!"
Seseorang mengacungkan tangan.
"Yang merasa murad?"
Tak seorang pun mengangkat tangannya.
"Jadi siapa Anda?"
Kosong. Tak sebersit pun sinar mata yang mengungkapkan sesuatu. Sementara di bagian belakang
berlangsung terus Studium Generale yang tak bergeming suara berisiknya oleh tawaran apapun.
"Coba, Mas yang tadi mengacungkan tangan. Bersediakah Anda menolong forum ini dengan mengemukakan apa yang Anda kehendaki dari pertemuan kita pagi ini?"
Syukurlah dia menjawab, "Saya ingin menjelajah langit, karena langit adalah kitab yang terbentang"
"Luar biasa!!" sang pakar mulai melonjak.
Yang terdengar kemudian adalah suara berdecak-decak dari daerah belakang.
Sang pakar agak kagum

Apa yang kira-kira mereka sukai dalam hidup ini? Kalau inisiatif kawan mereka sendiri tak berhak mereka
hargai. Maka apa yang sebenarnya mereka kehendaki? Ketika wacana apatisme menggema abadi hampir di seluruh seantero kampus, sebenarnya siapa mengapatiskan siapa? Apa makna menjadi mahasiswa bagi anak-anak muda ini?
Pada usia se-Anda ini, sang pakar coba terus melanjutkan, Dulu Prof. Koentjaraningrat melakukan riset
terhadap kebudayaan dan mentalitas .

Terdengar ck, ck, ck, ck lagi.

Tentulah para psikiater makin laris. Para dosen akan disambut oleh keadaan yang sanggup meningkatkan
stress mereka. "Usia Anda-anda ini merupakan fase mencari, mata jelalatan ke kiri kanan untuk menemukan apa yang terbaik untuk dipilih. Bersyukurlah Anda sudah menemukan sebagian dari pilihan hidup Anda, yakni menuntut ilmu di kampus ini. Bisakah seseorang menjelaskan kenapa memilih studi di kampus ini, apa hubungannya dengan cita-cita pribadinya, dengan keluarganya, syukur kalo nyambung dengan keadaan negaranya? Siapa?"
Kali ini sang pakar sudah lebih siap untuk mendengar dan menerima kesunyian namun matanya tak
bergeming dari rumput manusia di depannya. Ketika sekian lama tak seorang pun membuka mulut, sang
pakar bagaikan meledak. "Jadi apa sebenarnya yang Anda kehendaki dari forum ini?!! Anda ingin saya
melontarkan senapan kalimat dan Anda akan sibuk mencatatati sebagian serpihannya agar memperoleh
sertifikat Studium Generale? Sertifikat yang konon menjadi syarat pintu masuk bagi Anda jika ingin turut
meramaikan kampus ini?"

Wajah mereka tanpa ekspresi tapi mudah-mudahan bukan generasi tanpa ekspresi.
"Apa Anda ini kambing? pakar kita tampaknya mulai benar-benar kalah, Sepertinya Anda ini merupakan
bagian dari massa mengambang!!"

Para mahasiswa itu tetap setia dengan kedamaian wajahnya. Tidak tersinggung. Tidak terhina. Tidak marah.

"Atau Anda ingin saya bersikap seperti Butet Kertaradjasa yang bijaksana tapi terkadang error?"
Agak kaget. Rupanya mereka pernah mendengar nama itu. Nama yang menjanjikan kelucuan dan tamparan sosial. Tapi apa yang membuat mereka sedikit tersentak? Tamparannya atau kelucuannya?
Kemudian sang pakar menirukan salah satu gaya Butet yang sebenarnya merupakan tiruan dari ciri khas
salah satu mantan pemimpin negeri ini. Tertawalah para mahasiswa baru itu.
"Jadi apa maunya Anda-anda ini?"
Dan seperti situasi semula. Tak seorang pun menjawabnya.
"Apakah Anda generasi tanpa kehendak? Generasi tanpa aspirasi, tanpa integritas? Generasi yang kurang peka terhadap persoalan yang bersliweran di sekitarnya? Generasi yang bisa digiring seperti kumpulan kambing dan cuma bisa mengembik tanpa arti jelas?"
Suasana menjadi hening beberapa saat dan dalam keheningan itu, atau oleh keheningan itu, sang pakar
menambahkan berondongan kalimatnya dengan sebutan baru yang ia ucapkan dalam batin.

Memang ini generasi tanpa imajinasi. Generasi yang wajahnya tidak berwajah

Tiba-tiba suaranya terdengar kembali, "Ataukah Anda sekedar kesulitan untuk mengatakan diri?"
Tiba-tiba pula tanpa diduga oleh sang pakar, terdengar jawaban serentak. "Yaaa!!! Ituu!!"
"Anda sulit mengespresikan diri?"
"Betuuuuul!!"
"Anda tidak bisa menyusun kalimat?"
Mereka tertawa.
"Anda tidak paham persis apa yang sedang Anda pikirkan? Anda tidak punya kerangka untuk menyusun
pikiran yang melintas di kepala Anda secara semrawut?"
"Yaa!!"
"Anda tidak punya metode mengembangkan diri?"

Jawaban kali ini tidak serempak. Kalimat itu agaknya abstrak.
"Kenapa Adik-adik tak bisa mengekspresikan diri?"

Tampak sang pakar mulai turun dari klimaks dan kembali mengganti sapaannya.
"Kenapa?" Sang pakar bertanya lagi.
Diam.
"Apa atau siapa yang salah? Guru Adik-adik yang dulu? Orang tua adik-adik? Kurikulum? Politik .?"
"Yaaa!!" jawaban mereka amat kompak serentak.
"Kenapa politik?"
Seorang mahasiswa baru setengah berlari ke depan menuju tripod mic yang baru tersentuh satu kali.
"Kami heran dengan politik yang diceritakan oleh kakak-kakak kami yang lebih dahulu studi di sini. Politik yang diciptakan oleh kawan-kawan mereka sendiri. Tirani yang menyisakan ironi dan mungkin berlanjut di masa kami dan adik-adik kami nantinya. Unbreakable tirani"

Mendadak Diam lagi. Mereka seperti mendengar kalimat paling tabu di hidupnya.

"Jangan hanya bungkam!! Apalagi jika hanya menulis keluhan!!" Sang pakar seperti menyalakan api di
siang hari.
Tiba-tiba para anak muda itu bertepuk tangan.
"Apa yang salah dengan politik?"
Diam.
"Bagaimana mereka akan menguasai Anda?"
Semakin diam.
"Apakah Anda pernah belajar politik? Apakah belajar politik berarti masuk fisipol? Padahal di kampus ini tidak ada kelas fisipol. Bagaimana dengan senat yang akan memayungi Anda, apakah punya bidang humpol? Cukupkah itu?"

Diam yang makin menusuk.
Seolah mereka berada di kaki palung diam yang terdalam.

Diskusi akhirnya macet total. Sang pakar langsung keluar ruangan, menyalakan rokok dan menghisapnya
dalam-dalam sambil bergumam sejak dulu masih seperti itu

Lantas aku pun tertawa parau mendengarkan Dito berbagi pengalamannya ketika mengikuti studium
generale itu. Menatap Dito tak ubahnya melihat kamera pink yang setia menemaniku. Dia anak baru di
kampus ini. Ahh.. sudahlah, berulangkali aku mendengar cerita yang sama dari orang-orang yang
berbeda. Setelah seharian duduk menatap papan tulis, tak enak rasanya jika soreku yang penat ini
semakin diperparah dengan cerita semacam itu. Hanya menambah kering kerongkongan dan ingin
meneguk habis semua softdrink di kantin. Langkahku pulang ke kos terasa berat padahal tubuhku ingin
cepat mendarat di kasur. Kasur dari tempat tidur yang rawan ambruk. Si Belang, kucing yang baru dua tahun kupelihara tampak tidur di depan kamar. Ketika terdengar suara anak kunci berhasil membuka daun pintu, si Belang langsung bangun dan seperti biasa mendahuluiku masuk kamar.

Badanku kembali segar, mungkin saat mandi tadi semua kepenatan di kepalaku luntur bersama semua daki yang menjajahku. Semoga saja materi kuliah yang kudapat sejak pagi tidak ikut luntur di kamar mandi atau malah sudah rontok duluan di jalan.
'pus..pus..pus..' seorang teman kosku setengah berteriak memanggil si Belang. Tulang-tulang ayam yang tidak habis digerogotinya dilempar ke si Belang. Musik Tiesto yang kusetel untuk meninabobokanku ternyata masih ampuh juga, tapi kemudian tiba-tiba, kriing..kriingg.. nada jadul ponselku bunyi. Sial, ganggu orang mau tidur pikirku. Kuangkat panggilan tadi dengan enggan. Nomer tak terdaftar, "Hallo..siapa?" tanyaku.
"Vito Corleone, kuberi Kau tawaran yang tidak bisa kau tolak, pinjamkan kameramu atau si Belang kuculik?!!"
ternyata Dito, bandar simcard, sok banget ganti nama Vito, segitu fanatiknya dia sampai mengcopy nama seorang tokoh di film The Godfather. "Ko tadi sore tidak bilang sekalian?? Ambil aja tar malem jam sebelas, sekarang mau tidur" jawabku.
Awal aku mengenalnya juga dari transaksi gratis pinjam kamera. Belakangan aku baru sadar kalau dia lebih sering jalan bareng dengan Miss Pink daripada aku si pemilik sebenarnya. Dulu pernah di pagi buta dia ketuk pintu kamarku, ingin rasanya kuhantam pintu kamar ke wajahnya. "Pinjam kamera mas, buat pemira" , segera kuambil kamera dan kuberikan padanya supaya dia lekas pergi,
"Makasi mas, jangan lupa nyoblos, dapet stiker loh.."
"liat aja besok.." ujarku singkat.

Sebenarnya aku ingin belajar bagaimana mampu ngomong tidak. Tidak yang biasa-biasa aja deh
Nggak usah yang pakai tanda seru atau tanda pentung. Buat apa aku nyeru-nyeru atau mentung-mentung. Toh aku tidak semahir satpam yang sering nyeru-nyeru dan mentung-mentung kalau bertemu maling. Ngomong tidak itu kelihatannya gampang, tapi walah!! Bisa-bisa aku dikucilkan. Entah karena
dikemplang entah dibilang tidak peduli dengan kehidupan kampus. Apalagi di musim pemilihan calon
pimpinan senat saat itu, padahal kalau mau buka mata dan buka hati, sebenarnya ada beberapa cara
menghasilkan sosok pemimpin. Ada yang model bai at, pemimpin yang lama menunjuk penggantinya
atau cara yang paling rusuh dengan kudeta dan mungkin masih ada lagi model lainnya. Kalau berkata
tidak kepada salah satu model, apa ya salah? Kan sesuai dengan kepercayaan dan keyakinan masingmasing individu walaupun dikasih iming-iming es krim satu drum, yang namanya pendirian tu sulit di
debat kecuali dengan pendirian si pendebat sendiri. Masih banyak lagi lho yang harus aku tidakkin.
Misalnya ada yang bilang kaki ayam itu dua dan kakiku juga dua, maka ayam sama dengan aku atau
aku yang sama dengan ayam. Enggak lucu ya? Tapi semua tahu, karena ayam itu kecil dan aku ini
besar, maka ayam kumakan. Contoh lain seperti bintang kecil menghias angkasa. Tapi aku tidak
mungkin makan bintang. Ngomong tidak kan sulit. Memang ada tidak yang tanpa kata tidak. Misalnya dengan cukup diam atau tidak mengerjakan perintah seperti diajarkan Mahatma Gandhi. Ada tidak yang nampak seperti ya. Sementara ya kelihatan seperti tidak. Ya seakan-akan tidak, tidak seolah-olah ya. 

Ada ya yang ketidak-tidakan, ada tidak yang keiya-iyaan.
Orang ya disuruh bilang tidak, orang tidak dipaksa bilang ya. Siluman paksaan yang bisa menjelma selembut sutera. Ya menjadi buto ijo, menekan ibu keongmas yang ingin bilang tidak malah nyeplos ya.

Rupanya waktu itu susah juga menentukan pilihanku siapa yang cocok jadi pemimpin di kalangan mahasiwa kampus ini. Syarat berkeTuhanan yang maha Esa sudah jelas. Di lain itu sebaiknya untuk alam hidup kampus, yang berbudi luhur, jujur dan suka memberi. Memberi itu tidak cuma dalam bentuk uang receh, tapi juga memberi sapaan, memberi jendela supaya tidak menutup dri dari masukan di luar golongannya, memberi pelayanan terbaik buat seluruh civitas academica. Pelayanan yang tidak hanya dalam bentuk acara-acara formal. supaya tidak timbul kesan kalau kampus ini kampusnya mahasiswa EO event organizer, yang kesuksesannya hanya dinilai dari seberapa banyak acara yang dibuat.

Kurang mengenal konsep keinginan dan kebutuhan.
Diantara sekian banyak mahasiswa, tak sedikit yang relatif memenuhi syarat itu. Namun ada syarat
alamiah yang menggusur kemampuan mereka yakni bahwa calon hanya mungkin orang yang terpandang, membuat orang memandanginya. Ada lagi syarat yang berbobot, peminat : peminat mestilah memiliki orang-orang yang bersedia membantu permodalannya dan golongan pendukungnya sudah jelas. Syarat ini justru bisa mengaburkan syarat pertama: berbudi luhur dan jujur. Jika salah satu terpilih, apakah ada jaminan kalau dia lebih bagus dari pemimpin sebelumnya?

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa menghasilkan penerus yang minimal setara dengan dirinya.
Suatu perkara yang semakin meracuni pikiranku, karena begitu kecilnya ruang lingkup kampus sehingga segala sesuatu menjadi begitu realistis dan telanjang di setiap kemungkinannya. Agak lebih gamblang mungkin bila memilih Barrack Obama dan Hillary Clinton sesudah meneliti lika-liku karir mereka,mendengar perdebatan mereka serta menimbang persaingan kualitatifnya. Hanya perlu suatu kejelasan pilihan yang terbaik menurut suatu ide dan mimpi. Di kampus yang kecil ini demikian susah untuk memiliki yang terbaik.

Adakah para mahasiswa menginginkan sesuatu yang terlalu tinggi? Banyak yang menghendaki pemimpinnya mampu bekerja dengan terampil, kreatif, ekonomis, efisien- ada juga embel-embel untuk jadi agen perubahan. Pada hakikatnya mimpiku sederhana dan universal, semua kehendak tadi tak lain adalah perwatakan dasar dan cara yang lebih efektif untuk menggapai mimpi itu.

Semuanya sederhana dan minimal_persis seperti yang dihidupi dan didambakan oleh para mahasiwa di
kampus ini. Sifat yang tetap bersemayam dalam batin namun tiba-tiba terasa begitu sukar untuk
menemukan keberadaannya. Para mahasiswa semakin kurang terlibat maupun melibatkan diri untuk
memperbincangkan siapa yang pantas memimpin mereka. Tampak bagiku bahwa pemilihan pemimpin
senat tak lebih dari sebuah upacara kecil yang tidak terlalu bersangkutan dengan kompleksitas
kehidupan sebagai mahasiswa. Tentulah ini bukan problem khas mahasiswa zaman sekarang.

Ungkapan kuno mengatakan hal yang sama. Dicari: Manusia . Bukan sistem kebijaksanaan, bukan
kepercayaan dengan mata melotot. Bukan kekuatan dengan senyum ramah, bukan juga ungkapan
Dicari: Manusia .

Seperti yang pernah diucapkan Bung Karno bahwa bunga mawar tidak mempropagandakan harumnya, tetapi harumnya dengan sendiri semerbak ke kanan-kiri.

Hampir jam 11 malam, si Belang kulihat lelap sekali tidur beralas tas coklatku yang mulai lusuh. Kenapa
mataku tak juga terpejam,,terganjal oleh asteroid-asteroid pikiranku sendiri, berhamburan menambah
kepenatanku. Cahaya bulan masih saja menusukku dengan ribuan permasalahan. Bagaimana jika Dito nanti mampu melihat kumpulan asteroidku?.

Aku hanya bisa berkata: Kita mungkin begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta, cinta kepada kampus ini dan cinta kepada asa untuk menjadi generasi yang wajahnya memiliki ekspresi .
Aku bukan mortir yang terlontar bebas dan memojokkan siapapun yang ditimpanya, aku hanya berminat
sebagai Life observer namun tak berbekal teropong.

Jika esok pagi aku bisa tersenyum sedu karena terbangun dari tidur dan kemudian secara ajaib memilki
rasa cuek terhadap hal-hal semacam ini seperti halnya sikapku yang cuek terhadap matahari si pemberi
kehidupan ataukah matahari sesungguhnya ingin berkata jangan cuek terhadap kehidupan yang
diberikan?


Disajikan ulang tanpa intisari, dari pelbagai sumber:



-pramuditya.kurniawan-